Purnamanews.com – Bintan Saat jajaran Polres Bintan berdiri tegap mengikuti Apel Gelar Pasukan pengamanan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang dipimpin Kapolres Bintan AKBP Argya Satya Bhawana, Kamis (30/4/2026), pemandangan berbeda justru terjadi di titik-titik yang diduga menjadi lokasi tambang pasir ilegal di wilayah Bintan.
Di sana, tidak ada aba-aba komandan.
Tidak ada peluit apel.
Yang terdengar justru deru excavator, raungan dump truck, dan dentuman mesin pengeruk yang terus bekerja mengikis isi
bumi.
Ironis.
Di saat aparat bicara soal kesiapan pengamanan humanis dan kondusivitas daerah, mafia pasir diduga justru menikmati situasi aman untuk terus mengeruk keuntungan.
Pertanyaan publik pun mengeras:
Polres Bintan sebenarnya sedang menjaga ketertiban masyarakat, atau sedang membiarkan ketertiban bisnis tambang ilegal tetap berjalan ?
Seremonial Gagah, Lapangan Melemah
Apel Gelar Pasukan memang terlihat
gagah.
Barisan rapi.
Arahan tegas.
Komitmen pelayanan humanis.
Namun semua itu terasa kontras ketika masyarakat melihat fakta bahwa aktivitas tambang pasir ilegal yang telah lama dikeluhkan warga hingga kini masih belum benar-benar lumpuh.
Padahal kegiatan tersebut bukan operasi siluman.
Alat berat masuk terang-terangan.
Truk pasir lalu lalang tanpa malu-malu.
Material keluar dalam jumlah besar.
Artinya apa ?
Jika aparat mau bertindak, seharusnya sangat mudah melacak dan menghentikan.
Tapi jika sampai hari ini tetap beroperasi, maka publik sah bertanya:
apakah penegakan hukum di Bintan sedang mandul, atau memang sengaja dibuat tumpul ketika berhadapan dengan pemain pasir tertentu ?
Mafia Pasir Diduga Punya Jalur Aman
Kecurigaan masyarakat bukan isapan jempol.
Sebab mustahil aktivitas tambang ilegal bertahan jika tidak ada rasa aman dari para pelakunya. Dan rasa aman itu diduga lahir bukan karena keberanian semata, melainkan karena adanya keyakinan bahwa operasi mereka sulit disentuh.
Siapa yang memberi rasa aman itu?
Ini yang mulai menjadi bisik-bisik liar di tengah masyarakat.
Ada dugaan para pemain pasir memiliki jaringan penghubung, jalur komunikasi, hingga oknum yang disebut-sebut berperan sebagai “penjaga pintu belakang”.
Karena itu, publik menilai persoalan ini bukan lagi sekadar tambang ilegal.
Ini sudah menjelma menjadi dugaan gurita bisnis kotor yang hanya bisa hidup karena ada pembiaran sistematis.
May Day Dijaga Ketat, Alam Bintan Siapa yang Jaga ?
Hari Buruh diamankan.
Aksi massa dijaga.
Kerumunan dipantau.
Lalu satu pertanyaan paling telak muncul:
siapa yang menjaga alam Bintan dari kerakusan mafia pasir ?
Karena sampai hari ini, yang terlihat justru kerusakan berjalan lebih cepat daripada penindakan.
Bukit dikeruk.
Lahan dibongkar.
Pesisir terancam berubah.
Negara rugi, lingkungan hancur, masyarakat resah.
Tetapi para pemain diduga masih bisa tersenyum sambil menghitung kubikasi.
Kapolres Bintan Diuji, Bukan di Mimbar Upacara Tapi di Lubang Tambang
Masyarakat tidak butuh terlalu banyak apel simbolik.
Yang dibutuhkan adalah:
garis polisi di lokasi tambang,
penyitaan alat berat,
penangkapan aktor lapangan,
dan pembongkaran siapa beking di belakang layar.
Karena ketegasan aparat tidak diukur dari kerasnya suara saat memimpin apel.
Ketegasan diuji saat berhadapan dengan cukong-cukong pasir yang selama ini diduga kebal disentuh.
Jika tambang ilegal terus hidup setelah seruan pengamanan dan penegakan hukum digembar-gemborkan, maka publik akan menarik satu kesimpulan pahit: hukum di Bintan galak pada keramaian, tapi jinak pada mafia.
Penulis : Ravi













