PURNAMANES.COM | BANGKALAN — Polemik dugaan tekanan internal di lingkungan kerja kembali mencuat. Seorang petugas lapangan lembaga pembiayaan Amartha Cabang Kwanyar, Farhan, mengaku mengalami tekanan mental hingga kehilangan sepeda motornya setelah dituduh bertanggung jawab atas selisih tagihan puluhan juta rupiah.
Farhan yang sehari-hari bertugas melakukan penagihan dan pencairan dana kepada nasabah mengatakan dirinya kerap menghadapi berbagai persoalan di lapangan, mulai dari kredit macet hingga nasabah yang menghilang. Namun menurutnya, seluruh beban kerugian justru diarahkan kepadanya tanpa audit dan penjelasan data yang rinci.
“Saya setor sesuai nominal tagihan melalui Brilink. Tapi tiba-tiba muncul minus di aplikasi sekitar Rp11 juta dan langsung dibebankan ke saya,” ujar Farhan saat ditemui, Rabu (7/5/2026).
Ia mengakui terdapat kesalahan pribadi di luar prosedur operasional sebesar Rp16 juta dan Rp3 juta yang siap ia pertanggungjawabkan secara bertahap. Namun Farhan menilai ada ketidakjelasan dalam perhitungan total tagihan yang akhirnya membuat dirinya diminta menanggung nominal jauh lebih besar.
“Saya tidak lari dari tanggung jawab. Tapi jangan semua kesalahan dibebankan ke saya tanpa data yang jelas. Banyak nasabah menunggak, kenapa saya yang harus nombok semuanya,” katanya.
Tekanan tersebut disebut berdampak serius terhadap kondisi psikologisnya. Farhan mengaku mengalami kecemasan berkepanjangan, sulit tidur hingga mengalami gangguan mental yang membuatnya harus mendapatkan rujukan pemeriksaan ke poli kejiwaan.
Di sisi lain, pihak Amartha Kwanyar melalui Kepala Cabang, Denis, menyebut persoalan itu terjadi karena adanya pelanggaran SOP oleh petugas terkait. Namun saat dikonfirmasi mengenai dugaan hilangnya data tagihan dalam aplikasi dan mekanisme audit internal, pihak perusahaan belum memberikan penjelasan rinci.
Persoalan semakin memanas ketika terjadi penarikan aset milik Farhan. Menurut pengakuannya, pihak kantor sempat mendatangi rumah orang tuanya dan meminta dua unit sepeda motor sebagai jaminan kerugian. Karena keluarga tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, upaya itu gagal dilakukan.
Puncaknya terjadi pada Selasa malam (6/5/2026). Farhan mengaku dijemput empat orang dengan alasan melakukan pengecekan data ke kantor. Namun di tengah perjalanan ia justru diarahkan ke sebuah kafe di kawasan Khayangan.
“Saya kira diajak ke kantor untuk klarifikasi data, ternyata dibawa ke kafe. Di sana saya ditekan untuk segera melunasi sekitar Rp30 juta malam itu juga,” ungkapnya.
Dalam situasi tertekan, Farhan mengaku tidak mampu melawan ketika kunci sepeda motornya diambil dan kendaraan tersebut kemudian dibawa oleh pihak yang disebutnya sebagai atasannya. Setelah itu dirinya ditinggalkan begitu saja.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Amartha terkait dugaan intimidasi terhadap karyawan, mekanisme penarikan aset pribadi di luar jam kerja, maupun kejelasan audit data tagihan yang dipersoalkan korban.
***HARY










