PURNAMA NEWS.COM | SAMPANG – Nasib atlet panjat tebing di Kabupaten Sampang kembali menjadi sorotan, di saat para atlet berjuang membawa nama daerah di ajang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), perhatian dari KONI Kabupaten Sampang justru dinilai nyaris tidak terlihat.
FPTI Kabupaten Sampang bahkan disebut tetap memberangkatkan atletnya dengan kemampuan sendiri karena dana pembinaan yang diterima selama ini disebut nihil. Kondisi tersebut memicu kekecewaan para wali atlet yang menilai pembinaan olahraga di Kabupaten Sampang hanya sebatas wacana.
“Kalau atlet disuruh berprestasi, mereka selalu siap. Tapi saat atlet butuh dukungan, kenapa seperti dibiarkan berjuang sendirian?” ujar salah satu wali atlet dengan nada kecewa.
Para orang tua atlet mengaku heran karena selama ini anak-anak mereka tetap aktif latihan, mengikuti seleksi hingga bertanding membawa nama Kabupaten Sampang.
Namun ketika memasuki agenda pertandingan resmi, biaya keberangkatan justru harus ditanggung sendiri bahkan dengan cara patungan.
Situasi itu semakin memantik pertanyaan publik terkait fungsi pembinaan olahraga yang seharusnya menjadi tanggung jawab KONI sebagai induk organisasi olahraga di daerah.
FPTI Sampang disebut beberapa kali mengajukan proposal bantuan pembinaan dan keberangkatan atlet. Namun proposal tersebut dikabarkan tidak pernah menghasilkan kepastian yang jelas.
“Proposal masuk, tapi ujung-ujungnya tidak ada hasil. Seperti dilempar ke sana kemari tanpa penyelesaian,” ungkap sumber internal FPTI.
Tidak sedikit yang menilai KONI Kabupaten Sampang terkesan pilih kasih terhadap cabang olahraga tertentu. Sebab di tengah keterbatasan yang dialami FPTI, para atlet panjat tebing justru tetap aktif mengikuti Kejurprov tanpa pernah absen.
Ketua FPTI Kabupaten Sampang, Mahardika Surya Abrianto, disebut tetap bertahan membina atlet-atlet muda meski harus menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas dan anggaran.
Dukungan terbesar justru datang dari para orang tua atlet yang selama ini ikut menanggung kebutuhan latihan hingga biaya pertandingan. Salah satunya, Musdalifah, yang mengaku prihatin melihat kondisi atlet panjat tebing di Kabupaten Sampang.
“Anak-anak ini membawa nama daerah, bukan membawa nama pribadi. Tapi kenyataannya orang tua yang harus ikut memikirkan ongkos tanding, makan, sampai kebutuhan selama pertandingan,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Abdul. Ia menilai para atlet selama ini terlalu sering dijadikan simbol semangat olahraga tanpa benar-benar mendapatkan perhatian nyata.
“Jangan cuma bicara pembinaan olahraga di atas kertas. Faktanya atlet masih iuran sendiri untuk berangkat tanding. Ini sangat memalukan,” tegas ibu Abdul.
Menurutnya, apabila dana pembinaan olahraga benar-benar ada, maka atlet yang aktif membawa nama Kabupaten Sampang seharusnya tidak dibiarkan berjuang sendirian.
“Anak-anak ini tidak minta fasilitas mewah. Mereka hanya ingin diperhatikan dan dihargai perjuangannya. Jangan sampai semangat atlet daerah mati karena merasa diabaikan,” pungkasnya.
Meski minim dukungan dan disebut tanpa dana pembinaan, FPTI Sampang tetap memilih bertahan.
Para atlet terus latihan dan tetap tampil di Kejurprov demi menjaga nama Kabupaten Sampang di tingkat provinsi.
Ironisnya, semangat para atlet justru terlihat lebih besar dibanding perhatian yang mereka terima. (**Adhon )









