Menyoal Arah Kebijakan Pendidikan Tinggi : Sudah Tepatkah Wacana Penutupan Program Studi?

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Universitas Trilogi menggelar diskusi publik bertema “Beyond the Classroom: Membangun Ekosistem Pendidikan Tinggi yang Adaptif dan Progresif” pada Senin, 4 Mei 2026. Diskusi ini menjadi ruang refleksi kritis atas arah kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk menguatnya wacana penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Senin (4/5/2026).

Lestari Agusalim, yang lebih dikenal sebagai Luken, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Trilogi, menjadi pembicara utama dalam acara tersebut. Dalam pemaparannya, Luken menekankan bahwa tantangan utama pendidikan tinggi saat ini bukan semata pada jumlah lulusan, tetapi pada kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia mengungkapkan bahwa meskipun jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, tidak sedikit yang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, tingkat pengangguran pemuda mencapai 12,42%, sementara pengangguran lulusan perguruan tinggi berada di angka 5,39%. Menurut Luken, kondisi ini mencerminkan adanya mismatch antara pembelajaran di ruang kelas dan kebutuhan industri.

Baca Juga :  Investasi Kabupaten Tegal 2025 Lampaui Target, Serap Hampir 19 Ribu Tenaga Kerja

Dalam konteks tersebut, Luken mengajak untuk melihat persoalan ini secara lebih mendasar. “Pertanyaannya bukan sekadar program studi mana yang harus ditutup, tetapi apakah sistem pendidikan tinggi kita sudah cukup adaptif dalam merespons perubahan kebutuhan keterampilan,” ujarnya. Ia menilai, pendekatan kebijakan yang terlalu berfokus pada penutupan program studi berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya lebih kompleks.

Luken juga menyoroti disrupsi keterampilan akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan. Ia memperingatkan bahwa sekitar 40% keterampilan saat ini berpotensi hilang pada 2030. Kondisi ini menuntut pendidikan tinggi untuk tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan adaptif dan fleksibel.

Menurutnya, pendidikan tinggi perlu bergerak melampaui pendekatan konvensional yang berbasis teori semata. Penguatan pengalaman praktis melalui magang, kerja lapangan, dan kolaborasi dengan industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan pasar kerja. “Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan sekadar menara gading,” tegasnya.

Baca Juga :  Syawalan 1447 H, DWP Brebes Semarakkan Halal Bihalal dengan Bazar UMKM di Pendopo

Lebih lanjut, Luken menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas nasional. Dengan posisi Indonesia yang masih berada di peringkat 96 dalam Indeks Modal Manusia (IMM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan tenaga kerja menjadi krusial untuk meningkatkan daya saing global.

Di akhir diskusi, Luken mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri—untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif. “Alih-alih sekadar menutup program studi, yang lebih mendesak adalah memastikan sistem pendidikan tinggi mampu bertransformasi dan relevan dengan dinamika zaman,” tutupnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jurnalis : Handoko (abah kokoy)

Berita Terkait

Ansar Ahmad Rotasi 10 Pejabat Strategis Pemprov Kepri, Endri Joko Satrio dan Ika Hasilah Isi Pos Kunci Birokrasi
Peringati Hari Pers Sedunia, WPO Dan FWJ Indonesia Tegaskan Komitmen Bersama
Dalih “Kawasan Hutan” Panen Tanpa Izin Berlanjut : AWNI Jambi Desak Kepastian Hukum
Tender Rp193,6 Miliar Tanggul NCICD Disorot, Puluhan Peserta Gugur – Kritik Tajam Jumari Purnama
Diduga Cemari Udara, Aktivitas Cerobong PT Bina Karya Prima (BKP) di Kaliabang Tengah, Kota Bekasi Disorot
Skandal Tender Rp472 Miliar Polder Kamal Menguat, 50 Peserta Gugur Massal, Satu BUMN Melenggang Tanpa Perlawanan
Tender Rp10,2 Miliar GOR Kota Bekasi Disorot, Indikasi “Pengondisian” Menguat
Tender Rp.18,2 Miliar Polder Jatirasa Disorot Keras : Peserta 38, Lolos 1
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 20:17 WIB

Menyoal Arah Kebijakan Pendidikan Tinggi : Sudah Tepatkah Wacana Penutupan Program Studi?

Senin, 4 Mei 2026 - 18:58 WIB

Ansar Ahmad Rotasi 10 Pejabat Strategis Pemprov Kepri, Endri Joko Satrio dan Ika Hasilah Isi Pos Kunci Birokrasi

Senin, 4 Mei 2026 - 11:25 WIB

Peringati Hari Pers Sedunia, WPO Dan FWJ Indonesia Tegaskan Komitmen Bersama

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:37 WIB

Dalih “Kawasan Hutan” Panen Tanpa Izin Berlanjut : AWNI Jambi Desak Kepastian Hukum

Selasa, 28 April 2026 - 14:33 WIB

Tender Rp193,6 Miliar Tanggul NCICD Disorot, Puluhan Peserta Gugur – Kritik Tajam Jumari Purnama

Berita Terbaru

News

Bangkalan Targetkan Pesilat Emas pada Porprov 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:11 WIB