Tanjungpinang – Purnama News Dugaan kasus kekerasan terhadap seorang napi tamping di Rutan Tanjungpinang makin menguat. Korban diduga dipukul oleh oknum petugas rutan berinisial UUD tanpa alasan jelas. Kini, muncul lapisan skandal lain yang menampar keras institusi: opini liar yang menyebut keterlibatan dua oknum wartawan dalam “86” uang tutup mulut sebesar Rp5 juta agar kasus ini tak mencuat ke publik. Selasa, 15 Juli 2025.
Keterangan dari sejumlah napi menyebutkan bahwa aksi kekerasan itu terjadi di dalam area tahanan dan disaksikan langsung oleh beberapa orang. Korban dikenal kooperatif dan sering membantu petugas. Namun, justru itu yang diduga membuatnya jadi sasaran konflik personal.
Ibu Korban Menuntut Keadilan
Sosok ibu korban, yang kini lantang bersuara, menjadi simbol perjuangan di tengah kelumpuhan moral institusi. “Anak saya dipenjara, bukan berarti boleh diperlakukan seperti binatang. Saya cuma minta keadilan,” ujarnya.
Pers Dimanfaatkan? Atau Ikut Bermain?
Lebih memprihatinkan, beredar kabar bahwa dua wartawan lokal berinisial R dan M menerima bayaran untuk meredam berita ini. Jika benar, maka ini adalah pengkhianatan terhadap amanah publik. Bukan hanya soal etika, tapi juga potensi pidana jika terbukti menerima suap untuk memanipulasi pemberitaan.
Kemunduran Institusi
Rutan seharusnya menjadi tempat pembinaan, bukan ruang kelam tempat kekuasaan disalahgunakan dan kebenaran ditukar dengan uang. Sementara itu, wartawan seharusnya menjadi garda depan pengungkapan fakta, bukan justru jadi alat pembungkam suara rakyat.
Desakan Investigasi dan Transparansi Purnama News menuntut:
Penonaktifan sementara oknum UUD sambil menunggu investigasi independen.
Pemanggilan saksi-saksi napi dan staf rutan oleh Kemenkumham Kepri.
Penelusuran fakta soal dugaan aliran dana kepada wartawan.
Jika semua ini dibiarkan, maka kita tengah menyaksikan matinya keadilan — bukan karena hukum tak ada, tapi karena semua diam dan bermain kotor.
Rutan bukan tempat menyembunyikan kekerasan. Pers bukan panggung jual beli harga diam. Rakyat butuh kejujuran, bukan drama busuk di balik jeruji.













