Purnamanews.com – Batam Aksi sidak Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, terhadap warga pengambil pasir di Nongsa memang viral. Kamera menyorot. Video beredar. Pernyataan keras keluar. Nama Li Claudia mendadak ramai dibicarakan.
Sekilas, publik melihat itu sebagai ketegasan.
Tetapi setelah kegaduhan mereda, muncul pertanyaan yang jauh lebih menohok: apakah ini murni penegakan aturan, atau sekadar panggung ketegasan di hadapan rakyat kecil ?
Pertanyaan ini bukan tanpa sebab.
Sebab saat Li Claudia tampil lantang di lokasi warga pengambil pasir parit, di sudut lain Batam aktivitas proyek cut and fill berskala besar justru tetap berlangsung leluasa.
Excavator bekerja. Dump truck hilir mudik. Debu beterbangan. Lahan diratakan. Namun belum terlihat ada sidak dengan kemarahan yang sama, belum terdengar ada ultimatum sekeras itu, dan belum tampak ada sorotan setajam ketika berhadapan dengan masyarakat bawah.
Publik pun mulai membandingkan.
Dan perbandingan itu tidak menguntungkan.
Keras Saat Kamera Menyala, Sunyi Saat Alat Berat Bekerja ?
Banyak warga kini menilai sidak pasir parit terlalu mudah dijadikan panggung karena objeknya adalah masyarakat kecil—orang-orang yang tidak punya kuasa, tidak punya beking, dan tidak punya kemampuan melawan narasi pemerintah.
Pejabat datang.
Kamera menyala.
Teguran keras terdengar.
Video viral.
Selesai.
Tetapi proyek cut and fill besar bukan cerita sesederhana itu.
Di sana ada alat berat.
Ada mobilisasi material.
Ada dugaan legalitas yang perlu dibuka.
Ada kemungkinan melibatkan kepentingan ekonomi lebih besar.
Dan justru di titik itulah publik belum melihat keberanian yang sama dipertontonkan.
“Kalau memang mau menunjukkan ketegasan, jangan hanya cari lokasi yang aman untuk marah-marah.
Datangi juga proyek besar yang sedang disorot masyarakat,” celetuk seorang warga Nongsa.
Nada serupa kini ramai di media sosial: Li Claudia dianggap terlalu cepat garang ketika berhadapan dengan rakyat kecil, tetapi belum teruji nyalinya saat harus menyentuh proyek besar yang berpotensi menimbulkan persoalan lebih serius.
Ketegasan atau Pencitraan ?
Inilah titik paling rawan.
Karena dalam dunia politik, ketegasan tanpa konsistensi mudah berubah menjadi pencitraan.
Sidak ke warga kecil memang menghasilkan visual yang kuat:
ada pejabat turun, ada suara tinggi,
ada gestur marah, ada video yang gampang viral.
Tetapi publik tidak lagi hanya menonton visual.
Publik mulai menilai substansi.
Dan substansinya sederhana:
mengapa ketegasan itu tidak dibawa dengan intensitas yang sama ke proyek cut and fill yang dampaknya jauh lebih besar terhadap lingkungan dan tata ruang ?
Mengapa belum ada sidak terbuka ?
Mengapa belum ada tekanan keras ?
Mengapa empat instansi pengawas justru kompak bungkam saat dimintai penjelasan ?
Rangkaian pertanyaan ini memunculkan persepsi pahit: bahwa sidak pasir parit lebih mirip pertunjukan keberanian pada target yang lemah, bukan bukti keberanian menghadapi persoalan besar.
Publik Mulai Membaca Ada Ketegasan yang Setengah Jalan
Masalah terbesar bagi Li Claudia saat ini bukan lagi video viral atau kritik atas ucapan kontroversialnya.
Masalah terbesar adalah publik mulai membaca pola.
Pola bahwa pemerintah terlihat sangat cepat dan sangat keras ketika pelanggaran dilakukan rakyat kecil.
Namun terlihat lamban, hati-hati, bahkan nyaris tak terdengar ketika persoalan menyangkut aktivitas besar yang membutuhkan benturan dengan kepentingan lebih kuat.
Dan ketika pola itu tertangkap, lahirlah tudingan yang sulit ditepis: tajam ke bawah, teduh ke atas.
Sebuah stigma yang berbahaya bagi citra pejabat mana pun.
Karena rakyat bisa memaafkan pejabat yang terlambat bertindak.
Tetapi rakyat sulit menghormati pejabat yang dianggap hanya berani pada yang lemah.
Tantangan Terbuka untuk Li Claudia
Kini bola ada di tangan Li Claudia Chandra.
Jika ingin membuktikan bahwa sidak pasir parit bukan sekadar panggung sesaat, maka publik menunggu satu hal yang jauh lebih konkret: berani atau tidak turun dengan kemarahan yang sama ke proyek cut and fill besar yang sedang dipertanyakan legalitasnya ?
Berani atau tidak menekan instansi yang sampai hari ini bungkam ?
Berani atau tidak membuka dokumen, menghentikan alat berat, dan menunjukkan bahwa ketegasan pemerintah bukan hanya milik rakyat kecil ?
Sebab tanpa itu, sidak viral kemarin akan meninggalkan tafsir yang sangat kejam:
bahwa yang dipertontonkan bukan keberanian – melainkan kemarahan yang dipilih pada sasaran paling mudah.
Penulis : Ravi













