oleh

Wakil Menteri Keuangan berikan konferensi pers mengenai realisasi APBN 2018 sampai dengan bulan Mei 2018

PURNAMANEWS – Perekonomian Indonesia masih positif, sampai dengan 31 Mei 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5.06%.

Inflasi masih stabil di angka 3,2 persen. Kenaikan muncul karena adanya berbagai permintaan komoditas yang permintaannya meningkat selama bulan ramadhan dan menjelang hari rata, namun kenaikan permintaan ini bisa diimbangi dengan supply-nya yang cukup baik.

Realisasi penerimaan pendapatan negara pun tumbuh semakin baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penerimaan pajak tercatat Rp 484.5 Triliun atau meningkat 14,13% year on year.

Penerimaan kepabeanan dan cukai juga tercatat meningkat sebesar 18.29% dibandingkan tahun sebelumnya atau sebesar Rp54.18 Triliun.

Begitu pula dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang tercatat sebesar Rp145 Triliun atau meningkat 17,4%.

Pada sisi belanja, realisasi belanja negara juga telah mencapai angka yang cukup baik, yaitu Rp 779.5 Triliun atau sudah mencapai 35.1% dari target APBN 2018.

Dengan postur pendapatan dan belanja tersebut, posisi akhir Mei 2018 keseimbangan primer masih mengalami surplus sebesar Rp 18.1 Triliun.

Bila dibandingkan dengan posisi Mei 2017 keseimbangan primer kita sudah negatif atau defisit sebesar Rp 29.9 triliiun. Kenaikannya luar biasa, artinya APBN kita semakin sehat dan kuat.

Defisit anggaran posisi Mei sebesar Rp 94.4 Triliun atau 0.64%, sedangkan pada tahun lalu di bulan yang sama defisit telah mencapai Rp128.7 Triliun atau 0,96%. Dengan demikian, tahun ini juga telah terjadi perbaikan pada sisi defisit yang lebih kecil.

Bila dilihat dari tren defisit tiga tahun terakhir ini, sejak dari 2016 terjadi penurunan sangat drastis. Defisit anggaran menunjukkan pembalikan dari 189 (triliun) pada 2016 menjadi hanya 94.4( triliun), turun hampir kira-kira separuhnya. Inilah yang menggambarkan postur realisasi APBN 2018 yang sangat positif dan penguatan APBN yang sangat nyata.

APBN merupakan alat kebijakan fiskal di mana pemerintah mengatur penerimaan, belanja dan pembiayaan negara untuk menggerakkan ekonomi dalam mencapai tujuan negara.

Tujuan utama penggunaan APBN adalah untuk mengurangi kesenjangan sosial dan mengurangi kemiskinan, sehingga dapat tercapai masyarakat yang bermartabat, adil dan makmur.

Jakarta, 25 Juni 2018

(jmp/red)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed