oleh

Sutris Pemuda Kalbar, Hutan Adat Seperti Makan Buah Simalakama

[caption id="attachment_2229" align="alignnone" width="640"] Sutris masalah-masalah tentang polemik hutan adat,hutan lindung dan tapal batas desa yang terjadi di kuburaya dan wilayah lainnya.[/caption]

PURNAMANEWS – Kalbar. Provinsi Kalimantan barat kota pontianak sekenario hutan adat seperti buah simalakama buat masyarakat luas di daerah penjuru nusantara,khususnya yang terjadi di berbagai kabupaten di kalimantan barat kuburaya bengkayang,landak,dan sambas.

Sutris,salah satu tokoh pemuda kalbar kabupaten kuburaya,mengungkapkan kepada awak media,tanggal 01 agustus 2018 waktu setempat,masalah-masalah tentang polemik hutan adat,hutan lindung dan tapal batas desa yang terjadi di kuburaya dan wilayah lainnya.

Menurut sutris,rancanggan UU hukum adat ini harus betul-betul dimatangkan, karena beririsan dengan TORA, Perhutani sosial dan konsevasi, terutama dengan 15 pioritas nasional DAS dan Danau, data AMAN dengan Mapping KLHK bertolak belakang.

Baca Juga: Diduga Sedang Istirahat A.n Kaspin 75 Ditemukan Tewas Dikios Bensin 

Presiden dibisikan dengan data yang tidak A1.Sehingga dimanfaatkan dengan penumpang gelap yang memainkan isu hutan adat,adapun penumpang gelap yang nantinya akan menikung lahan akan rusak dengan dalih untuk mengekploitasi dan kepemilikan siurat-surat IPPKH oleh Oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sutris menambahkan sekenario hutan adat akan menjadi polemik adu domba antara desa A,degan desa B,nah berdampak tapal batas desa,kesempatan itu lah yang menjadikan para cukong-cukong besar masuk berdalih perkebunan sawit sebagai penyelamat yang ujung-ujungnya hutan jadi lahan sawit,dan tidak tau lagi yang mana yang diatur UU yang mana tidak nya.

Maka dari itulah ungkap tokoh pemuda kelahiran kalbar kabupaten kuburaya ini,meminta degan tegas kepada seluruh intansi pemerintahaan dari tingkat kabupaten/kota,provinsi serta pusat,para mentri kabinet dan bapak presiden supaya UU tentang hutan adat benar utuk masyarakat adat,bukan untuk pengusaha.

Penguasa, dan yang lain-lainnya agar tidak menjadi penyakit yang berkepanjanggan buat masuarakat adat yang di perdalaman.

(Jon/red)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed