oleh

Suami Ku Salah Apa Hingga Di Tanggkap?

PURNAMANEWS.COM – ACEH TIMUR. Syukriah 27 tahun istrinya Mukhtar Bin M.Jamil, pekerjaan ibu rumah tangga bertempat tinggal di dusun Kota Gampong Meunasah Blang Kecamatan Darul Aman Kabupaten Aceh Timur sangat prihatin atas peristiwa penangkapan suaminya, yang terjadi Pada hari Senin tanggal 8 April 2019 beberapa waktu yang lalu hari ini Minggu 1/9/2019.

Suami saya yang kukenal dahulu sangat penyayang bahkan pahlawan bagi anak -anak ku, tentunya semenjak kami menikah pada tahun 2007 lalu hingga saat ini, Allah SWT sudah mengkaruniakan satu putra dan dua putri, ketiga orang anak kami berikan nama diantaranya yang pertama Muhammad Alfadil dan kedua Isratul Al’aqida dan ketiga Makfirah.

Semenjak itu kami saling mengisi satu sama lain bahkan kami berjuang bersama – sama demi kehidupan masa depan anak – anak kami, sehingga sampai pada hari ini impian dan harapan tersebut terpaksa harus saya lupakan saat suami saya ditangkap oleh kepolisian Ditserse Narkoba Aceh Utara.

Atas kejadian tersebut sudah pasti hari ini saya sebagai perempuan yang harus menanggung segala beban berat yang terpaksa di hadapi dengan segala keterbatasan.

Padahal setahu saya sebagai istrinya yang sah, tidak pernah suami mengenal dengan barang – barang yang namanya narkoba atau Shabu, sifatnya yang sosial sering kali menolong antar sesama baik orang yang baru dikenal maupun tetangga sehingga dengan kejadian ini saya sebagai istri masyarakat awam yang patut sampaikan hanya “Faqulja Alhaqqu Wazahakal Bathiil” Hanya Allah SWT yang tau atas segala apapun yang terjadi kepada seisi alam semesta ini.

Saat di telusuri oleh media, atas kejadian peristiwa penangkapan tersebut Mukhtar Bin M.Jamil mengatakan kepada media kronologis yang sebenarnya adalah bahwa terkait dengan penangkapan yang terjadi pada tanggal 8 April 2019 atas diri saya seperti ini?

berawal pada hari Senin tanggal 8 April 2019 saya ditelpon oleh si Adi Congkreng dalam percakapan telepon tersebut oleh Adi Congkreng diminta kepada saya untuk mencari Shabu, namun saya menolak untuk mencari Shabu tersebut, setelah itu saya matikan telepon saya, kemudian si Adi congkreng berkali-kali menelfon saya hingga sampai tujuh kali, namun Adi Congkreng kembali menghubungi saya, dan saya mengangkat telfonnya, dalam percakapan tersebut si Adi Congkreng dengan suara sedih menghiba kembali kepada saya, karena dirinya (Adi Congkreng) dalam masalah besar, karena dirinya sudah menghabiskan rumah sakit sebesar Rp.700.000, oleh karena itu Adi meminta kepada saya untuk mendapatkan barang haram itu (Shabu), untuk kepentingan rumah sakit, lalu saya panik saya harus mencari kemana barang tersebut, tidak kehilangan akal saya meminta kepada salah satu anak kecil untuk mencari jaringan siapa yang memiliki nomor hp, setelah nomor hp terbaru baru saya kasih Adi Congkreng, setelah saya berikan nomor telepon tersebut kepada Adi Congkreng, saya memutuskan hp saya dengan Adi Congkreng.

Menjelang lepas Magrib Adi Congkreng kembali menghubungi saya, meminta saya menjemputnya ke kota Binje, namun tanpa menaruh kecurigaan saya menjemputnya ke kota Binje, mengingat Adi Congkreng orang cidera kasihan pikir hati saya, sesampai saya di kota Binje, Adi Congkreng berposisi dalam Mobil EL 300, kemudian saya melihat ke arah mobil El 300 Adi Congkreng langsung mendatangi saya, dan dalam jarak 4 meter saya rasa mengenal wajah penumpang, setelah itu sedikit merasa curiga namun saya menepis dalam benak hati saya, mungkin perasaan saya saja, selanjutnya Adi Congkreng meminta saya lagi untuk menghubungi nomor hp yang sebelumnya sudah saya berikan kepadanya, dan setelah itu Adi Congkreng menghubungi nomor tersebut, dalam pembicaraan tersebut Adi meminta saya untuk berhenti di halte kota Binje, dalam sepuluh menit kami disitu keluarlah seorang pemuda, pemuda itu menanyakan siapa yang namanya Mukhtar? saya menjawab saya.

Dan Adi langsung berbincang dengan pemuda tersebut, selepas itu ternyata Pemuda tersebut tidak memiliki kendaraan, dan pemuda itu meminta kendaraan saya, tanpa rasa curiga saya menyerahkan kunci motor saya kepada pemuda tersebut.

Setelah mengambil motor saya, pemuda tersebut langsung pergi entah kemana? Dan tidak berapa lama kemudian Pemuda tersebut muncul lagi dan kembali berbicara dengan Adi Congkreng, setelah itu Adi Congkreng meminta saya untuk diantar pulang ke Alue Ie Puteh, dengan alasan tidak punya uang, dan saya menghubungi isteri saya, dalam percakapan telepon seluler istri saya melarang saya untuk mengantar Adi Congkreng, dan saya menjawab kepada istri saya bahwa Adi Congkreng tidak punya uang sama sekali, lalu saya tutup telpon saya.

Bahkan Adi Congkreng mendesak agar saya mau mengantarnya ke Alue Ie Puteh, tidak tega akhirnya saya mengantar Adi Congkreng kerumahnya, bahkan Adi Congkreng menawarkan hp Samsung kepada saya sebagai imbalan karena dirinya tidak punya uang.

Sampai di simpang Ulim saya harus mengisi bahan bakar minyak kereta, pada saat saya membayar biaya minyak kepada pemilik kios, hanya Adi Congkreng yang ada di kereta saya, dan kami kembali melanjutkan perjalanan ke Arah Banda Aceh, sampai di BRI Panton labu, Adi Congkreng kembali minta saya berhenti, dengan dalih Adi Congkreng membeli Rokok, setelah kereta saya rem terlihatlah 4 orang pemuda yang sebelumnya saya lihat di mobil El 300 dan pemuda tersebut merapat ke arah saya, Adi Congkreng terus turun dan saya ditangkap, sementara antara saya dengan Adi Congkreng waktu saya disergap hanya berjarak tiga meter, maka saat ini saya membantah apa yang di BAP terhadap diri saya demikian ungkap Muhktar Bin.M.Jalil mohon kepada pengadilan Negeri Lhoksukon Aceh Utara untuk mempertimbangkan seadil-adilnya terhadap kasus yang saya alami.

Hendrik/Red

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed