oleh

Ronny : Kondisi Demokrasi dan HAM di Aceh Timur Kian Buruk, Berdampak Mempertajam Kemiskinan

Purnamanews.com – Aceh Timur. Aktivis HAM, Ronny Hariyanto, mengungkapkan pendapatnya bahwa kondisi demokrasi dan pemenuhan HAM di Aceh Timur masih kelam, bahkan cendrung memburuk. Hal itu disampaikan Ronny menjelang peringatan hari HAM sedunia yang akan diperingati tepatnya pada hari Selasa, 10 Desember 2019 mendatang.

Ronny mengatakan, hal itu bukannya tanpa alasan, ia mencontohkan secara umum, secara psikologis masyarakat di Aceh Timur, masih hidup dalam kondisi terpuruk dan tertekan, serta tak berani bersuara atau berkeluh kesah secara terbuka, merskipun hak – haknya sebagai warga negara tidak terpenuhi dengan baik. Kondisi itu menurut Ronny, disebabkan oleh karena matinya demokrasi dan tersumbatnya daya kritis masyarakat akibat tekanan kekuasaan yang dominan.

” Kondisi Demokrasi masih buruk, hal itu bisa ditemukan dari indikasi tidak beraninya warga bicara terbuka, meskipun hak – haknya tidak terpenuhi, jangankan kritik politik, menyuarakan gas elpiji langka saja mereka masih harus bisik – bisik, padahal itu kebutuhan masak makanan untuk mereka makan, apalagi meneriaki koruptor dan lainnya, banyak pegawai/ karyawan tertindas, tapi tak berani bersuara, itu karena apa? Mungkin disebabkan mereka masih takut pada ancaman dan teror yang dianggap masih gentayangan seperti hantu dimana – mana selama ini, dan kondisi parah itu sudah menjadi rahasia umum di tengah warga,” kata Ronny Sabtu, 7 Desember 2019.

Ronny menilai, kondisi buruk denokrasi itu mungkin ditenggarai oleh dominasi kelompok berkuasa yang cendrung mengesankan masyarakat lainnya di Aceh Timur sebagai warga kelas dua.

” Padahal kan hak – hak setiap warga negara itu sama, tapi secara psikologis kita melihat sekat – sekat itu masih sangat kentara, misalkan si ini bagian dari kelompok berkuasa, dan yang lainnya dianggap jadi warga kelas dua yang terkesan lebih rendah hak – haknya dibanding lainnya, belum lagi segelintir orang yang benar – benar merasa paling berkuasa di lingkar kekuasaan di Aceh Timur, yang seolah bisa melakukan apa saja dan menikmati segalanya, ini jelas citra buruk demokrasi dan HAM yang jelas menghambat pencerahan dan kemajuan bagi masyarakat, ” ungkap Aktivis Front Anti Kejahatan Sosial (FAKSi) Aceh tersebut.

” Mungkin pun kalau ada kasus korupsi di depan mata warga, atau bantuan – bantuan bagi masyarakat yang mungkin disunat atau diembat oknum – oknum penjahat, ataupun berbagai ketimpangan lainnya terjadi, orang – orang ini tak berani mengungkap, apalagi menyuarakannya secara lantang, karena mereka masih merasa dihantui berbagai ketakutan ketika bersuara, ibaratnya malah mereka yang takut sama maling,” ujar putera Idi Rayeuk berdarah Aceh – Minang itu.

Menurut Ronny, kondisi psikologis warga yang dicekam ketakutan untuk mengemukakan pendapat, merupakan kenyataan yang menguatkan pendapatnya bahwa demokrasi dan HAM di Aceh Timur masih sangat buruk.

” Itu bukan terjadi begitu saja tanpa alasan, tapi ekses dari kenangan silam yang buruk dan kondisi itu disinyalir pernah sengaja diciptakan, jadi dampaknya masyarakat masih trauma sampai sekarang,” sebut Ronny.

Dia juga mencontohkan kondisi memburuknya iklim demokrasi dan HAM di Aceh Timur, dengan apa yang dialami oleh beberapa orang jurnalis di Aceh Timur, ketika menjalankan tugasnya menyuplai informasi demi kepentingan publik, begitu juga hal – hal buruk yang dialami para aktivis ketika mengadvokasi atau membela dan menyuarakan tentang kesengsaraan masyarakat.

” Ada itu faktanya di Aceh Timur akhir – akhir ini, makin marak wartawan diancam, diteror diperlakukan tidak menyenangkan ketika mereka mengungkap informasi ke hadapan publik, bahkan wartawan yang kritis tak jarang juga disisihkan pemerintah, demikian juga dengan aktivis yang diteror dan dibully oleh mereka yang merasa kepentingan dan kesenangannya terganggu, ini kenyataan buruknya demokrasi,” kata Alumni SMA Negeri Idi Rayeuk angkatan tahun 1999 itu, yang diketahui juga mengalami perlakuan rasis dan pengancaman beberapa waktu lalu.

Ronny sangat menyayangkan itikad demokratik yang kerap digaungkan oleh Bupati Aceh Timur, Hasballah M.Thaib, sama sekali tidak berdampak langsung di Seantero Aceh Timur, meskipun begitu, Ronny terus mendorong terciptanya kondisi demokrasi dan pemenuhan HAM yang lebih baik lagi.

“Coba lihat, meskipun Bupati Rocky sudah berkali – kali menyuarakan agar semua pihak mengkritisi pemerintahannya. Namun oknum – oknum di lapangan tidak segan – segan memamerkan keangkuhan dan kesombongannya.Dan itu belum lagii dicurigai , pihak tertentu telah berupaya keras membungkam dan menyulap media agar hanya menjadi corong pencitraan penguasa,” ketus eks Ketua Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Provinsi Aceh tersebutm

Namun di sisi lain, Ronny tidak menepis bahwa selama ini hak – hak untuk mengemukakan pendapat seperti gelaran aksi demonstrasi dan berbagai aksi protes lainnya tetap difasilitasi dengan baik oleh penegak hukum di Aceh Timur.

” Ya memang faktanya hak berdemonstrasi tetap difasilitasi dengan baik oleh penegak hukum, itu satu sisi positifnya, tapi kan pulang demo tetap was – was dan ngeri juga ” ungkap Ronny berseloroh.

Selanjutnya, jelang hari HAM sedunia, Ronny mengutarakan beberapa tuntutan dari pihaknya agar dapat menjadi referensi bagi pemerintah di Aceh Timur demi terwujudnya kesejahteraan dan kemajuan publik.

” Tuntutan kami di Aceh Timur, yang pertama adalah penguatan sipil/demokrasi, kedua, pemenuhan HAM, ketiga, pemerataan kesejahteraan rakyat dan pemantapan pelayanan publik, itu saja dulu, semuanya saling berkaitan, dan itu adalah hak – hak dasar rakyat yang mesti dipenuhi oleh negara, insha allah kami, dan saya secara pribadi akan terus memperjuangkannya, walau apapun terjadi,” pungkas Ronny menutup keterangannya sembari mengucapkan selamat hari HAM Sedunia untuk semua.

Hendrik/Red

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed