oleh

ROMI : PENDERITA BENGKAK JANTUNG MEMBUTUHKAN ULURAN TANGAN SEORANG DERMAWAN

purnamanews.com – Meulaboh. Romi Afriansyah (12), warga Desa Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, harus pasrah dengan penyakit kelainan jantung yang dialaminya. Hidup di tengah kemiskinan, anak kedua dari pasangan Asnami (53), dan Erna Sri Yulianti (41), ini sangat membutuhkan uluran tangan dari siapapun untuk mengobati penyakitnya.

Tubuh Romi tampak lemah, dada Romi tampak seperti bergetar saat jantungnya berdebar. Saat baju yang dipakai di angkat ke atas, maka tulang rusuk popa jantung terlihat membesar medorong tulang parunya dan jauh seperti detak jantung orang normal, sedangkan perutnya tampak buncit. Kaki Romi juga membengkak seperti mengalami endema atau terjadi penumpukan cairan.

Sesekali Romi merasakan sesak nafas, saat berbaring. Ketika sesak rasa sakit sangat dirasakan oleh bocah tersebut, namun ia hanya bisa pasrah sambil mengeluh kepada ibunya saat sesak pada dananya mulai muncul.

Dokter memvonis Romi mengalami pembengkakan jantung atau istilah lain rematik jantung. Penyakit tersebut telah dialami Romi sejak tiga tahun terakhir.

“Harusnya dia (Romi) harus disuntik sebulan sekali oleh dokter, tapi karena di rumah sakit sini tidak ada obat jadi harus dirujuk ke Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh,” kata Erna Sri Yulianti, kepada awak media saat mengunjungi kediamannya.

Kondisi kemiskinan, ia hanya bisa pasrah. Untuk ke Banda Aceh merawat Romi membutuhkan biaya paling sedikit Rp 1 juta untuk sekali perjalanan pulang pergi bersama Romi.

Ibarat jatuh ketimpa tangga, itulah derita yang dialami Yulianti. Romi anaknya belum sembuh dari sakit menderita pembengkakan jantung, suaminya Asnami juga mengalami penyakit stroke sehingga tidak bisa beraktivitas.

Belum lagi dengan biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah bagi tiga anaknya yang lain. Berharap dari biaya penjualan kelapa yang ia lakukan selama ini tidak mencukupi menutupi kebutuhan.

“Dari hasil penjualan kelapa, tidak mungkin saya habiskan semuanya untuk kebutuhan, tapi harus saya gunakan untuk modal lagi. Kalau tidak darimana uang untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi lakunya rata-rata Rp 50 ribu sehari,” ucap Yanti.

Suaminya Asnami telah menderita stroke sejak depalan bulan terakhir, sebelumnya Asnami hanya berprofesi sebagai nelayan yang kebutuhannya juga tidak menentu. Namun sejak menderita stroke Asnami tidak memiliki penghasilan.

Sejak sakit tiga tahun lalu, kata dia, Romi hanya dibawa berobat selama tujuh kali ke RSUDZA Banda Aceh untuk mendapatkan suntik. Selama tujuh kali dibawa berobat, Romi sempat membaik. Namun sayangnya sudah dua bulan terakhir penyakitnya kambuh kembali, bahkan semakin parah.

“Memang untuk berobat gratis karena ada BPJS, tapi kan untuk biaya makan dan ongkos mobil pulang pergi besar, jadi mau tidak mau terpaksa menjual rumah,” kata Yulianti.

Untuk tempat tinggal mereka selama ini, Yulianti dan suaminya Asnami membangun seadanya dengan menyambung dinding rumah dengan dinding rumah orang tua Asnami yang telah hancur atau menjadi puing saat gempa dan tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 silam.

Yulianti sangat membutuhkan uluran tangan untuk bisa membiayai pengobatan Romi dan suaminya. Bila ada yang ingin membantu dapat menyalur langsung kepada Yulianti dengan menghubungi nomornya 0813-7671-2834.

NS/Red

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed