oleh

Raker Kemendag dan Komisi VI DPR: Percepat Penyelesaian Ratifikasi Perubahan AJCEP

Sigli – Purnamanews.com ,
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menegaskan protokol Pertama Perubahan (The 1st Protocol to Amend) Persetujuan Kemitraan ASEAN-Jepang , ASEAN Japan Comphrehensif Economic Partnership (AJCEP) perlu segera disahkan. Untuk itu, proses ratifikasi
perjanjian ini harus segera diselesaikan. Hal ini disampaikan Mendag Agus saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta pada Kamis, 30 Januari 2020.

Pihak-pihak terkait telah sepakat untuk mengupayakan penyelesaian proses perjanjian ini pada awal tahun 2020. Untuk itu, diharapkan dukungan Komisi VI DPR RI agar target penyelesaian ratifikasi dapat tercapai tahun ini segera,” kata Mendag Agus .

Mendag mengungkapkan, saat ini Thailand dan Singapura telah menyelesaikan proses ratifikasinya.
Sementara Jepang dan negara ASEAN lainnya termasuk Indonesia dalam proses penyelesaian perundingan perdagangan internasional menjadi perhatian khusus Pemerintah dalam upaya meningkatkan ekspor. Terlebih dalam situasi perekonomian yang tidak menentu saat ini hingga beberapa tahun ke depan. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga meminta Mendag untuk segera menyelesaikan perjanjian dagang dengan negara-negara potensial dalam penguatan ekspor. [caption id="attachment_16541" align="aligncenter" width="1024"] Dok.foto Humas kemendag[/caption]

“Oleh sebab itu, proses ratifikasi perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani
Indonesia, baik dalam konteks bilateral maupun regional harus segera diselesaikan. Di samping itu,berbagai terobosan akan terus diupayakan Pemerintah untuk tingkatkan ekspor Indonesia dan Investasi asing ke Indonesia. Salah satunya dengan menjajaki pasar nontradisional dan meningkatkan peran seluruh perwakilan perdagangan di luar negeri agar lebih pro bisnis,” jelas Mendag Agus.

Perjanjian AJCEP merupakan perjanjian yang telah ditandatangani oleh seluruh negara anggota ASEAN dan Jepang pada 28 Maret 2008 di Jakarta. Indonesia kemudian meratifikasi perjanjian tersebut melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2009 tanggal 19 November 2009. Perjanjian AJCEP memuat kesepakatan di bidang perdagangan barang dan jasa, serta investasi. Namun demikian,
pada saat ditandatangani perjanjian ini hanya terkait perdagangan barang. Sementara bidang perdagangan jasa dan investasi akan dirundingkan kemudian.

Selanjutnya, para pihak terkait merundingkan bab perdagangan jasa, pergerakan orang (movement of natural persons/MNP), dan investasi untuk menjadi bagian dari persetujuan AJCEP. Perundingan ini dimulai pada tahun 2011 untuk bab investasi serta pada 2012 untuk bab perdagangan jasa dan bab MNP. Perundingan diselesaikan pada tahun 2018 dan ditandatangani seluruh Negara anggota ASEAN dan Jepang di Hanoi, Vietnam pada 24 April 2019. Perjanjian ini mulai berlaku efektif pada hari pertama bulan kedua setelah Jepang dan setidaknya satu negara anggota ASEAN telah menyampaikan
notifikasinya kepada Sekretariat ASEAN.(02/02/2020)

Komisi VI DPR RI meminta Kemendag mengkaji secara detail dan komprehensif terkait perjanjian-perjanjian yang sedang dalam proses penyelesaian. DPR meminta Kemendag mengutamakan produk ekspor khususnya UKM dalam negeri pada saat implementasi perdagangan elektronik.

Komisi VI menyampaikan, implementasi perjanjian perdagangan harus menjadi kunci peningkatan ekspor bukan mendorong impor, sehingga dapat tercapai keseimbangan perdagangan.

Kemendag diharapkan dapat mereviu kebijakan-kebijakan impor agar berpihak kepada rakyat,
lingkungan, dan industri dalam negeri serta mempermudah kebijakan ekspor untuk akselerasi
keseimbangan neraca perdagangan.
“DPR RI memahami kepentingan Pemerintah untuk meratifikasi perjanjian internasional yang sudah ditandatangani, namun Komisi VI tetap mengharapkan adanya pendalaman materi. baik dalam bentuk FGD maupun konsinyering dengan Kemendag,” pungkas Mendag Agus.(Iskandar )

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed