oleh

Penumpang Keluhkan Perbaikan Sistem E-ticketing Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek

[caption id="attachment_1864" align="alignnone" width="604"] “Petugas bilang ‘enggak usah nge-tap, langsung masuk saja’, di saat masuk enggak bayar. Di saat berhenti di Stasiun transit Duri, ada pengumuman hari ini KAI ada gangguan cuma bisa pakai kartu multi trip, (kartu) dari bank enggak bisa,” [/caption]

PURNAMANEWS – Jakarta. Proses perbaikan sistem e-ticketing kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek membuat sejumlah penumpang mengeluh.

Salah satunya, Ichsan Suhendra (29), penumpang KRL di Stasiun Bojong Gede yang tidak bisa menggunakan kartu bank untuk akses masuk gate elektronik.

“Petugas bilang ‘enggak usah nge-tap, langsung masuk saja’, di saat masuk enggak bayar. Di saat berhenti di Stasiun transit Duri, ada pengumuman hari ini KAI ada gangguan cuma bisa pakai kartu multi trip, (kartu) dari bank enggak bisa,” kata Ichsan pada Minggu (22/7/2018).

Baca Juga: Pengurus Poros Muda Aceh Dukung Zubir Sebagai Calon Legislatif Pada Pileg 2019

Ia mengeluarkan biaya perjalanan Rp 7.000 dari Stasiun Bojong Gede-Stasiun Tangerang. Saat membeli saldo kartu, ia harus mengantre sekitar 100 meter.

“Dari empat line, (loket) yang dibuka cuma dua line dan antreannya mengular,” ujarnya.

Antrean yang mengular juga dirasakan Widi (22), penumpang KRL di Stasiun Pondok Ranji.

Ia melihat para petugas turun tangan membantu penumpang mengakses gate elektronik.

“Antreannya banyak banget, banyak juga (penumpang) yang marah-marah. Awalnya di kereta diumumkan (kartu) yang lama ditukar yang baru, enggak tahu kalau bakal ada ganguan,” kata Widi.

Akibatnya, Widi ketinggalan satu perjalanan kereta. Ia pun harus membeli tiket harian berjamin (THB) seharga Rp 14.000.

Baca Juga: Suporter Sriwijaya FC Mengamuk, Fasilitas Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring di Rusak

Gilang (25), penumpang KRL Bekasi-Jakarta Kota merasakan ketidaknyamanan dengan teguran petugas saat sedang mengantre.

“Si petugas bilang, ‘kalau enggak mau ngantre, naik transportasi yang lain saja’ sambil tangannya ngarahin gue ke luar pintu gerbang stasiun, dong,” kata Gilang.

Sebagai pemegang kartu Flazz BCA, ia mengaku tidak menerima sosialisasi petugas terkait kendala akses gate elektronik dan peralihan ke THB.

“Yang disesalkan adalah cacat sosialisasi, ketidakmatangan sistem yang diterapkan paksa, dan ketidaksiapan petugas dalam melayani saat kondisi darurat,” ujarnya.

Kendala juga dialami pengguna KMT yang mengganti nomor seri terbaru, Tika (23), penumpang KRL Cakung-Stasiun Tangerang.

Baca Juga: Banyak Masyarakat Yang Resah, Griya Pijat dan Karaoke Live Music ‘V&S’ disegel 

Ia berangkat sekitar pukul 11.00 dengan menyiapkan saldo Rp 18.000, tetapi ternyata KMT barunya tidak bisa digunakan.

“Si petugas bilang, ‘Mbak, (kartu) enggak bisa (digunakan) lagi perbaikan sistem’. Terus aku bilang, ‘kan aku sudah pakai kartu yang baru. Enggak bisa juga? Terus gimana?’, Petugas bilang, ‘caranya, Mbak, bayar lagi’,” ujar Tika.

Kepada Tika, petugas itu menyebut saldo dalam kartu barunya tidak berkurang.

Namun, ia harus mengeluarkan biaya Rp 5.000 untuk membeli kartu THB untuk perjalanan Cakung-Tangerang.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menyiapkan tiket kertas Rp 3.000 ke semua stasiun tujuan, mulai Senin (23/7/2018). Penumpang diminta menyiapkan waktu lebih dan uang tunai untuk pembayaran.

“Di stasiun awal, tiket kertas perlu diperlihatkan kepada petugas untuk ditandai bahwa tiket tersebut telah terpakai dan selanjutnya disimpan sebagai bukti perjalanan,” kata VP Komunikasi Perusahaan PT KCI Eva Chairunisa.

(rn/red)

Baca Sumber

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed