oleh

Open House Gubenur DKI, Jangan Dorong Anies Jadi Koruptor

[caption id="attachment_870" align="alignnone" width="1040"] Alex bersama keluarga besar ABI[/caption] [caption id="attachment_877" align="alignnone" width="1280"] keluarga besar ABI halal bihala dengan gubenur DKI[/caption]

PURNAMANEWS – Ada banyak komentar yang saya dapatkan bahwa Bang Alex Asmasoebrata lebih bermutu menjamu tamu daripada Gubernur DKI Jakarta saat Open House, Sabtu (23/6)siang.

Open House Gubernur DKI Jakarta dinilai banyak tamu undangan hadir memakai panitia dan kurang cekatan.
Antrian yang mengular sudah terjadi pukul 14.14 siang.
Antrian panjang tidak sebanding dengan yang mereka nikmati di dalam yang penuh antrian hidangan kesederhanaan. Habis waktu warga dengan dua kali antrian, pertama menjelang masuk dan bersalaman dan kedua antri ransum yang disediakan panitia Open House.

Walaupun saya bela bahwa Gubernur yang bersih mungkin tidak punya dana cukup untuk menjamu, tetep saja mereka membantah.

Beberapa warga berkomentar lebih puas datang ke rumah Ketua RW di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan Alex Asmasoebrata daripada ke Rumah Gubernur Anies. Pada hari yang sama, dimana Alex mengadakan acara Ulang tahun ke 67 di Jalan Cikajang 60,Jakarta Selatan.

Mengapa begitu?
Menurut mereka sajian terlalu sederhana sedangkan antrian melelahkan karena begitu panjangnya. Artinya, tidak sebanding antara aksi tenaga yang dikeluarkan dan reaksi panitia Open House yang mereka terima.

Beda dengan yang dialami saat ke rumah Alex, dinilai elegan bahkan terlihat ekslusif. Karena, di rumah Alex bisa mendengar tuan rumah bicara, mendengar Saurip Kadi bicara mewakili undangan, dan mendengarkan artis Mandala memberikan taunya pada tamu yang datang. Bahkan ada doa penutup dari ustad Herlan.

Bagaimana komentarmu atas penilaian objektif di atas ini?
Massa yang datang ke rumah Anies mengingatkan saya pada Sabtu Maut 28/4 di Monas. Beruntung tidak ada korban jatuh karena tertib.

Saya dapat info komentar tamu, “kok nggak da rendang, dan terlalu sederhana dari sosok kedudukan yang dijabatnya” dan lain-lain komentar.

Salah seorang tamu yang hadir, Sri , mengatakan Waduuuh asli ruwet amburadul,garda kurang banyak dan kurang tertib,makanan gak memadai adanya, minum pun susah.

“Menurut saya tidak mungkin nggak ada dana bang,” aku Sri pada saya.

Lalu saya sambung,” anda jangan samakan dengan kemewahan sajian Ahok dulu. Yang ternyata yang bersangkutan korup kan? Anda mau tadi juga seperti itu?” Tanya saya. Perempuan tadi terdiam mendengar pembelaan saya terhadap Anies.

Sekedar usulan, ada baiknya tuan rumah siapkan nasi kotak saja dan air minuman kemasan yang banyak. Tidak perlu ada meja antrian. Begitu memasuki halaman belakang setelah bersalaman dengan Gubernur dan istri langsung diberikan ransum nasi kotak.

Tentu yang sesuai dengan energi mengantri yang sudah dikeluarkan. Tinggal antrian diatur jangan sampai lama menunggu pukul 15 tepat karena sudah kepanasan dan berjibun.

Kemarin saya lihat Gubernur Anies datang dari luar ke rumah dinas sejak pukul 14.14 siang. Pintu gerbang dibuka sesuai jadwal undangan yaitu pukul 15.00. Tidak ada pesan dan sambutan dari tuan rumah, hanya bersalaman.

Ibu Lulu yang datang dari bilangan Jakarta Selatan bahkan usul, bagaimana kalau diadakan di Taman Suropati saja atau Taman Proklamasi agar mendengar juga pesan dan kesan gubernur dan perwakikan warga agar terjadi tali sambung silaturrahim yang lebih dekat antara gubernur dan warga.

(hst/red)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed