oleh

Sukseskan Pilpres 2019 Tanpa  Ujaran  Kebencian

 

                              Oleh

 

                       Ricardo Tunu
Mahasiswa Semester III Fisip Undana Kupang

Terkait dengan ajakan Calon Presiden (Capres)  Ir. H. Joko Widodo atau yang lebih di kenal dengan sebutan Jokowi untuk hijrah dari ujaran kebencian ke ujaran kebenaran di sini berarti jokowi mengajak kita untuk berpindah dari perpecahan ke kesatuan, dari kebencian ke kedamaian. di mana kata Hijrah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk pada perbaikan diri atau meninggalkan atau peralihan dari satu kondisi ke kondisi lainya.

Kita tahu kondisi Indonesia saat ini menjelang pesta demokrasi sehingga Jokowi mengajak seluruh masyrakat untuk ber-hijrah, ajakan Jokowi ini tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia karena, sebagai orang nomor 1 di Indonesia sudah mengajak masyarakat untuk beralih ke jalan yang benar.

Dengan adanya ajakan  Jokowi tentang hijrah dari ujaran kebencian ke ujaran kebenaran, menurut penulis,  sudah seharusnya di lakukan oleh para elit politik dan para koleganya sehingga menjadi contoh baik bagi masyarakat umum yang awam politik.

Ujaran kebencian, kejahatan dan tindakan kriminal lain,   merupakan perilaku menyimpang dalam dunia politik yang belakangan terjadi di bumi Pertiwi, sehingga ajakan Jokowi, hemat penulis,  memberikan sebuah vitamin baru bagi masyarakat Indonesia untuk kembali bersatu dalam kebhinekaan.
Masyarakat pun di harapkan  tidak ikut terprovokasi dengan informasi-informasi yang berdampak memecah  belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pemilu merupakan ajang perlombaan atau pertandingan untuk mendapatkan hasil yang baik pada saat hari pemilihan dengan cara-cara yang sportif, pemilu juga bukan ajang untuk saling mengalahkan lawan. Tetapi fakta yang terjadi belakangan ini,  terkadang pemilu sering di manfatkan untuk menjatuhkan pihak lain dengan mengumbar kelemahannya. Bahkan sudah tidak lazim lagi setiap kali perhelatan pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) harus berakhir di meja hijau. Seperti pemilukada serentak tahun 2018 tercatat 62 perkara  sengketa pilkada yang di laporkan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) dengan rincian 39 perkara untuk pemilihan bupati, 16 perkara pemilihan walikota dan 7 perkara di pemilihan gubernur (Sumber; Tempo.co).

Peran Media Dalam Pilpres 2019

Peran media  dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyebaran ujaran kebencian jelang pesta demokrasi tahun 2019 juga sangat penting. Hal itu, hemat penulis, karena media juga di pegang oleh para elit politik yang mempunyai kekuasaan dan kepentingan pribadi sehingga melibatkan media dalam menyebarkan berita atau informasi  yang bersifat ujaran kebencian di tengah masyarakat.

Untuk itu, sudah sepatutnya masyarakat menyadari dan berpindah dari jalan yang salah ke jalan yang benar karna ujaran kebencian, sangat merugikan bagi bangsa dan negara bahkan merugikan diri sendiri oleh karena informasi hoax yang di sebarkan tanpa kejelasan yang pasti, sehingga hijrah dari ujaran kebencian ke ujaran kebenaran perlu di lakukan.

Dari beberapa pernyatan di atas yang menyebabkan suatu perselisihan serta perpecahan karna berbeda pandangan dan kepentingan sehingga tidak akan menutup kemungkinan bahwa akan menimbulkan konflik dan akibat dari pada itu Jokowi mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar berhijrah dari kebencian menuju kebenaran demi menyukseskan Pilpres 2019 tanpa ujaran kebencian karena kita satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed