oleh

PROYEK PEMBANGUNAN RUSUN KAB.MAROS YANG MENELAN DANA LEBIH DARI 16 MILIAR UANG APBN, DI DUGA DI KERJAKAN ASAL ASALAN

PURNAMANEWS.COM, SULSEL– Proyek pembangunan rumah susun, yang bertingkat 4 Kab. Maros yang di kawal oleh tim TP4D Kejaksaan tingkat Prov. Sulawesi Selatan.

Proyek yang dikerjakan oleh PT KONSTRINDO CITRA NUSANTARA, dengan nilai kontrak Rp.16,755,195,000. Nomor kontrak HK,02,03/04/SPK/PPK,RSK/SATKER PPSSI RS 2018. Waktu pelaksana 240 hari kelender Sumber dana APBN/2018 konsultan CV.CIPTA PERSADA NUSANTARA.

Sesuai dengan fakta yang ada dilapangan, sangat jelas bahwa proyek tersebut dikerjakan asal asalan. Ada beberapa temuan, yang diduga sudah tidak sesuai dengan RAB. Rabu (21/11/18).

  1. Pasangan batu mulai tingkat 2, 3 sampai 4. Jenis batu yang pakai, jenis batu bata ringan dan memakai semen biasa saja. Seharusnya, jenis batu bata ringan tersebut sudah ada pasangan semen tersendiri dengan merek semen HOLCIM.
  2. Ada beberapa area kamar mulai lantai 3 sampai 4, sudah retak dibagian dinding dan bahkan adapula yang disusun saja batu batanya tapi tidak ada campuran semen diantara batu bata tersebut.
    Ada beberapa pekerja yg mengatakan bahwa memang hanya dilantai 1 saja bagus cara kerjanya masalah pasangan batu batanya.

Salah satu karyawan proyek yang enggan disebut namanya ini, juga mengatakan kalau hanya dilantai 1 saja yang pakai semen holcim, kalau yang diatas mulai tingkat 2, 3 sampai 4 kita memang tidak pakai semen. Sesuai pasangan batu yang kita pasang, karena semen tersebut memang tidak disediakan oleh pihak proyek.

Karyawan tersebut juga membeberkan kepada awak media, “Disini juga lucu proyeknya pak, pembesian bagian lantai tingkat 2 sampai 4 itu hanya pakai besi biasa, seharusnya kan pakai besi ulir dengan jarak 15cm tapi disini jaraknya yang dipakai 35cm,” ungkapnya.

Kami beserta awak media yang lain, mencoba mencari mandor/pegawas proyek. Guna, melakukan konfirmasi ke pengawas proyeknya.

Dilantai dasar kami menemukan salah seorang mandor pengawas proyeknya yang bernama Pak Syarif. Saat dimintai keterangannya prihal proyek yang sedang berjalan ini, Syarif mengatakan, ” saya tidak tau apa apa, saya hanya buruh di proyek ini,” ungkapnya.

Aneh, padahal saat kami dan awak media lain bertanya kepada buruh yang ada disana. Syarif, adalah mandor disana.

Tak hanya sampai disitu, kami menelusuri ke basecampnya untuk meminta klarifikasi prihal K3 dan apakah dari pihak PUPR tidak pernah datang memantau. Tapi, kami tidak mendapat keterangan apapun dari konsultan proyeknya. Konsultan selalu mengelak saat kami beri pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kalau memang tidak terjadi penyimpangan disini. Seharusnya, pihak proyek baik itu mandor/pengawas ataupun konsultannya terbuka kepada media. Karena ini adalah sarana publik yang memakai uang APBN. (Tallasa/Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed