oleh

KPU – BAWASLU Himbau Agak Tak Mengunakan #2019GantiPresiden Saat Daftar Capres

[caption id="attachment_2276" align="alignnone" width="300"] Ya, kayak misalnya tagar-tagar itu harusnya enggak usah [digunakan] kedua belah pihak ini, biar enggakmanasin,” ujar Ketua Bawaslu Muhammad Afif saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/8)[/caption]PURNAMANEWS – Kakarta. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) meminta semua pendukung tak menggunakan atribut provokatif, termasuk yang bertuliskan tanda pagar (tagar) saat pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu 2019

“Ya, kayak misalnya tagar-tagar itu harusnya enggak usah [digunakan] kedua belah pihak ini, biar enggakmanasin,” ujar Ketua Bawaslu Muhammad Afif saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/8).KUNJUNGI SPONSOR

Keduanya diunggulkan di sejumlah survei sebagai rival kuat di pemilu 2019.Selama ini tagar #2019gantipresiden identik dengan pendukung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Sedangkan #2019tetapJokowi identik dengan pendukung Presiden Jokowi.

Berita Terkait: Berkaca Dari Persekusi Neno Warisman, MUI Jabar #2019Gantipresiden Dihimbau Menahan Diri 

Meski begitu, Afif mengaku belum memastikan jenis sanksi yang bakal diterima para pendukung capres-cawapres yang menggunakan atribut #2019 Ganti Presiden

“Bagaimana caranya agar proses pencalonan ini berjalan lancar, untuk menjaga agar suasana tetap kondusif,” ujarnya.Pihaknya hanya mengantisipasi agar situasi pendaftaran capres-cawapres di kantor KPU tetap berjalan kondustif.

Di tempat yang sama, Ketua Komisioner KPU Arief Budiman mengimbau agar para pendukung maupun simpatisan untuk tak menggunakan atribut bernada provokatif.

Baca Juga: Bukan Hoax, WhatsApp Akan Kenakan Tarif Kepada Penguna 

Arief pun enggan menjelaskan lebih lanjut soal jenis atribut bernada provokatif tersebut.”Ya, ini sebetulnya imbauan ya. Jadi saya harap semua mematuhi koridor yang diatur dalam undang-undang maupun peraturan KPU,” kata dia.

Imbauan itu, sambungnya, bertujuan untuk mencegah terjadinya permusuhan dan gesekan antarpendukung.

Penggunaan atribut tagar ini sempat memicu kericuhan antarpendukung dalam debat pilkada Jawa Barat 2018, di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Senin (14/5).”Jadi tidak mencela, menghina, begitulah. Jangan sampai nanti kalimat simbil yang justru memicu timbulnya pertikaian di antara kita,” ungkapnya.

Keriuhan pun terjadi. Paslon lain dan banyak penonton memprotes pernyataan dan aksi pasangan yang didukung Gerindra, PKS, dan PAN itu.Ketika itu, pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Sudrajat-Akhmad Syaikhu dalam pernyataan penutup debat itu menyatakan 2019 akan ganti Presiden jika pihaknya menang. Syaikhu kemudian mengeluarkan kaos bertuliskan #2019Ganti Presiden.

(tim/red)

Baca Sumber

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed