oleh

Kementan: kenaikan Harga Daging Ayam, Karna Adanya Permintaan Yang Cukup Tajam

[caption id="attachment_1474" align="alignnone" width="300"] Harga daging ayam di seluruh pasar melonjak naik. Hasil pemantauan petugas Kementan di beberapa pasar, walaupun sempat terjadinya kenaikan harga daging ayam. Karena pasokannya cukup, terbukti harga daging ayam berangsur-angsur sudah turun ke kondisi normal[/caption]

PURNAMANEWS –  Jakarta. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) menjanjikan harga daging ayam ras akan berangsur kembali normal. Normalnya harga daging ayam diharapkan bisa tercapai seiring produksi yang sudah mencukupi kebutuhan.

Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHP) Kementan Fini Murfiani, mengatakan kenaikan harga daging ayam di atas harga normal mencapai Rp 37 ribu sampai Rp 40 ribu per kg, disebabkan bukan karena pasokan yang menurun. Melainkan, kata dia, karena adanya permintaan yang meningkat cukup tajam dalam waktu yang relatif lama akhir-akhir ini.

“Hasil pemantauan petugas Kementan di beberapa pasar, walaupun sempat terjadinya kenaikan harga daging ayam. Karena pasokannya cukup, terbukti harga daging ayam berangsur-angsur sudah turun ke kondisi normal,” kata Fini dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (25/7)

Baca Juga: RR Dagang Kekuasaan Itu Memang Enak dan Gurih 

Fini menjelaskan rata-rata konsumsi daging ayam ras sekitar 11,5 kg per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 265 juta jiwa. Dengan demikian, kebutuhan daging ayam ras selama tahun 2018 dengan sudah memperhitungkan kenaikan permintaan pada hari raya dan tahun baru adalah sekitar 3,05 juta ton per tahun.

Sementara itu, jumlah produksi daging ayam ras selama tahun 2018 diperkirakan akan mencapai 3,56 juta ton per tahun, sehingga sebenarnya ada surplus produksi sekitar 500 ribu ton. Tanpa memperhitungkan stok tahun lalu, selama Januari-Juni tahun ini, realisasi produksi daging ayam ras telah mencapai 1,80 juta ton sementara kebutuhan yang dipenuhi sebanyak 1,54 juta ton.

“Maka dalam 6 bulan ini kita mengalami surplus daging ayam ras sekitar 260 ribu ton,” kata Fini.

Ia mencontohkan harga daging ayam di Jawa Tengah pada Senin (23/7) berkisar Rp 35 ribu kg, turun sebesar 2,23 persen dari hari sebelumnya Rp 35.800 per kg. Harga ayam ras hidup di tingkat produsen juga sudah normal Rp 23 ribu per kg.

Di Jawa Timur, harga daging ayam ras juga turun 0,11 persen dari Rp 35.940 per kg menjadi Rp 35.900 per kg. Harga daging ayam di Lampung sebesar Rp 34 ribu per kg dan bahkan di Sumatera Barat hanya Rp 29.600 per kg.

Sebaliknya, harga daging ayam di DKI Jakarta masih sekitar Rp 36 ribu sampai Rp 37 ribu per kg. Namun dengan pasokan yang cukup, diyakini dalam beberapa hari harga daging ayam akan semakin stabil.

Produksi daging ayam juga tidak akan terganggu karena masalah ketersediaan pakan, mengingat produksi jagung dalam negeri tahun ini diperkirakan lebih dibandingkan tahun lalu. “Produksi jagung tahun ini bisa mencapai 29,5 juta ton, meningkat dari tahun 2017 sebanyak 28,9 juta ton. Sehingga tidak ada kekhawatiran akan kurangnya pasokan jagung dalam negeri sebagai bahan baku utama dalam pembuatan pakan, bahkan berlebih,” kata Fini.

(rn/red)

Baca Sumber

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed