oleh

Kehadiran PT. GIN di Bipolo Di Akui Masyarakat Sangat Bermanfaat

Oelamasi,  Masyarakat Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang mengaku kehadiran PT. Garam Indo Nasional (GIN) sangat bermanfaat. Pasalnya, kehadiran PT. GIN membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat yang sebelumnya berprofesi sebagai petani lahan kering atau petani sawah bisa memeliki pekerjaan sampingan sebagai karyawan PT. GIN.

Demikian hal itu di sampaikan Nikodemus Tanuha tokoh masyarakat setempat yang di temui awak media ini di tambak garam Bipolo, Kamis, (25/10/2018) siang.

Lebih lanjut, Daniel menjelaskan bahwa sistem kerjasama antara masyarakat dan PT. GIN adalah sistem kontrak. Setelah masa kontrak selesai, lahan garam yang di kelola PT. GIN akan di kembalikan kepada masyarakat.

“Kita punya perjanjian kerjasama yang kita sepakati yaitu 30 tahun, setelah 30 tahun kalau kita sudah bisa kelola sendiri akan kita memberhentikan kerjasama dengan PT.GIN, tetapi kalau setelah 30 tahun kita belum bisa kerja sendiri maka kita akan perpanjang kontrak lagi sampai anak cucu atau masyarakat kita bisa kelola sendiri.” tuturnya

Soal pembagian hasil, Daniel mengaku kesepakatan masyarakat pemilik lahan dengan PT.GIN, keuntungan 10 persen di bagi 5,5 persen untuk pemilik lahan, 1,5 persen untuk pemerintah kabupaten Kupang, 1,5 persen untuk GMIT dan 1,5 persen untuk lembaga adat.

“perusahaan juga memberi upah kepada masyarakat yang bekerja sebagai karyawan sesuai standar UMR. Jadi pada dasarnya kami akui kehadiran PT. GIN di Bipolo itu sangat membantu perekomian masyarakat. Maka seperti informasi yang kami dengar lewat media bahwa ada perusahaan yang mau usir PT.GIN dan mau kuasai lahan kami maka kami 4 suku pemilik lahan garam di Desa Bipolo sudah siap perang ke dua di Bipolo setelah perang pertama tahun 1965, siapa yang mau datang klaim lahan kami,  kami siap perang dan  mati di lahan kami.” tuturnya tegas

Hal yang sama di sampaikan, Marthen Luther Abanit, tokoh masyarakat sekaligus pemilik lahan garam yang bekerjasama dengan PT.GIN mengaku sejak di lahirkan sampai hari ini tidak pernah kenal  perusahaan mana pun yang memiliki lahan HGU di Bipolo.

“Sejak saya di lahirkan sampai hari ini saya tidak pernah tahu masyarakat Bipolo  jual lahan ke investor manapun. Jadi kalau ada yang mau datang klaim bilang dia punya lahan HGU di Bipolo kami 5 suku pemilik lahan yang sementara di kelola PT.GIN siap perang. Siapapun yang mau usir PT.GIN silahkan datang dan berurusan dengan kami.” katanya dengan tegas.

Marthen menjelaskan, Sebelumnya garam ini di kelola oleh masyarakat lokal dengan manual, namun dengan hadirnya PT. GIN masuk melalui pemerintah sangat membantu masyarakat Bipolo dan mencegah masyarakat yang ingin merantau ke luar negeri, karena masyarakat Bipolo sudah memiliki lapangan kerja baru.

Ia berharap kerjasama ini terus berlanjut sampai batas waktu yang di tentukan. “PT. GIN 2 mei mulai beroperasi sampai 10 juli panen perdana. 10 september panen kedua di hadiri pak Gubernur NTT, Viktor  Bungtilu Laiskodat, kami sangat senang karena pak Viktor Bungtilu Laiskodat waktu bilang masyarakat kerja saja, soal hukum itu urusan belakang, nanti kita urus di kemudian hari. Yang penting lahan jangan tidur.” bebernya.

Di lansir Purnamanews.com, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, di hari pertama kerja sebagai Gubernur NTT, Senin,  (10/09/2018) siang langsung mengunjungi desa tambak garam yang di kelola PT. GIN di desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang dan melakukan panen raya garam.

Dalam sambutannya, Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan bahwa jika ada  perusahaan garam yang datang dan hanya mengantungi izin  namun tidak bekerja maka sebagai gubernur ia siap  cabut izin.

“Kalau ada perusahaan yang hanya datang taruh nama saja saya siap untuk bersama  masyarakat kita usir. Sejak SMP saya tahu ada perusahaan yang izin disini namun tidak bekerja, Ini perusahaan datang menipu saja.”tegasnya

Viktor juga berpharap kepada masyarakat jika ada masalah hukum yang menggangu, masyarakat harus tetap kerja, urusan hukum nanti kemudian yang penting lahan jangan tidur.

“Kerja saja oleh masyarakat, Gubernur ada untuk rakyat. Hukum saya tidak urus, yang penting kerja, nanti siapa yang menang baru kita urus lagi.
Tanah ini milik masyarakat, biar perusahaan yang dagang saja. Kalau Indonesia cukup baru impor keluar negeri.” harapnya

Mengakhiri sambutannya, Viktor berpesan kepada masyarakat agar rajin bekerja dalam mengelola lahan garam yang ada tanpa rasa takut demi  kecukupan  kebutuhan garam Nasional.

“Bipolo sampai nunkurus tahun ini harus kerja. Hukum saya tidak urus. Yang penting kerja, nanti siapa yang menang baru kita urus lagi. Jangan karena kita ribut terus lahannya tidur. Lahan harus diolah. Nanti saya lapor ke pak Presiden bahwa Masyarakat kerja namun ada gangguan hukum sedikit.” pesan gubernur yang baru di lantik minggu lalu. (Kekson Salukh)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed