oleh

*HPN 2020 dan Tokoh Pers B.M. Diah*

Purnamanews.com Jakarta—Hari Pers Nasional (HPN) 2020 yang jatuh pada tanggal 9 Februari akan diperingati di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo akan hadir sehari lebih awal di HPN 2020 yang digelar di Banjarmasin Kalimantan Selatan tersebut.

Atal S Depari di Jakarta, Sabtu, mengatakan, awalnya Presiden Jokowi direncanakan hadir di puncak Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2020, namun kemudian presiden diagendakan hadiri HPN pada 8 Februari karena sehari sebelum melakukan serangkaian acara di Singkawang dan Pontianak Kalimantan Barat.

“Presiden Joko Widodo bersama rombongan akan berada di Banjarmasin lebih cepat sehari dari rencana awal, sehingga untuk menghormati kehadiran Presiden pada rangkaian HPN, panitia menyesuaikan dengan agenda presiden, karena setelah hadir di HPN, presiden akan melakukan kunjungan ke Australia,” katanya.

HPN kali ini juga diperingati di Radio Suara Bekasi yang dikomandani
Imam Trikarsohadi. Ia juga sebelumnya sudah malang melintang di dunia pers.

Hari itu yang jadi nara sumber adalah Nurman Diah, putra tokoh pers, Burhanudin Mohamad (B.M) Diah dan saya sendiri : Dasman Djamaluddin, mantan wartawan harian “Merdeka” pimpinan B.M. Diah yang terbit pada 1 Oktober 1945.

B.M. Diah bukan hanya dikenal sebagai wartawan sebelum masa merdeka. Ia juga waktu itu dikenal sebagai Ketua Pemuda “Angkatan Baru 45.” Perjuangan B.M. Diah sebagai Ketua Pemuda “Angkatan Baru 45″ dapat dibaca di dalam buku yang diterbitkan tahun 2018 oleh Yayasan Pustaka Obor,” milik tokoh pers Mochtar Lubis (almarhum).

B.M. Diah adalah putra Aceh. Ia meninggal dunia pada hari Senin, 10 Juni 1996 di usia 79 tahun.

Ketika usia B.M. Diah 70 tahun, ia memperoleh kesempatan emas mewawancarai Sekretrais Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev di Kremlin, Moskow. Ia menganggap pertemuannya dengan Gorbachev sebagai mahkota seorang wartawan.

Ketika ada yang mempertanyakan kontinuitas penerbitan harian “Merdeka” sejak 1945 hingga meninggalnya tahun 1996 bahkan beberapa tahun setelah itu, saya berpendapat dikarenakan harian “Merdeka” memiliki garis politik yang jelas. Landasan tetap setia kepada Republik Proklamasi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tahun 1970 hingga selanjutnya adalah mempelopori perjuangan nasional mempertahankan Republik Proklamasi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Redaksi

Artikel  mantan wartawan “Merdeka” Dasman Djamaluddin_

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed