oleh

Hidup Dimulai di Usia 40 Tahun

Purnamanews.com – Memang benar apa yang dikatakan Bung Indra Jaya Piliang di twitter nya pagi ini, Minggu, 2 Februari 2020, bahwa hidup dimulai di usia 40 tahun.

Sudah tentu membaca twitter pagi ini, saya teringat tulisan di Kompasiana beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, saya membicarakan pertemuan saya dengan Indra Jaya Piliang, tahun 2009 yang merupakan pertemuan kedua, setelah saya dan Bung Indra Jaya Piliang sama-sama menggugat Komisi Pemilihan Umun (KPU) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Bung Indra Jaya Piliang menggugat lebih duluan. Saya dan Hasanuddin mendaftarkan diri kemudian pada hari Selasa, 30 Oktober 2007. Bung Indra Jaya Piliang dan saya kalah. Kami sama-sama naik banding. Hasilnya kalah. Siapa yang kami gugat?

Saya dan Bung Indra Jaya Piliang menggugat Departemen Dalam Negeri RI dan Presiden RI. Meski kalah, saya dan Indra Jaya Piliang merasa lega, sebagaimana ungkapan Indra Jaya Piliang sendiri:

“Saya bersama Pak Dasman Djamaluddin pernah menggugat KPU di PTUN. Apa yang kita lakukan dulu sudah ada catatan hukum yang mengingatkan kepada bangsa Indonesia, bahwa kalau tidak diperhatikan , inilah hasilnya,” ujar Bung Indra Jaya Piliang.

Ia juga menegaskan, buktinya sekarang, semua protes kepada KPU, karena KPU tidak independen lagi waktu itu. Apa yang kita lakukan dahulu, hasilnya baik untuk bangsa ini, meskipun dahulu ketika kita di PTUN, mana yang bantu. Oleh karena itu, saya beranggapan untuk merubah kekuasaan, dengan masuk ke dalam kekuasaan itu sendiri.

Ketika menggugat KPU inilah, Bung Indra Jaya Piliang terjun ke dunia politik. Semangat untuk mengubah sistem politik pun tidak semudah membalikan telapak tangan, karena di dalam politik berlaku ungkapan, “Tidak ada teman sejati di dalam politik, yang ada hanya teman seideologi dan teman yang menjadi musuh, karena ideologi…”

Di samping itu, Bung Indra Jaya Piliang pernah mengungkapan kepada saya, ketika terjun ke dunia politik banyak ditinggalkan teman-temannya. Ketika mendukung Jusuf Kala dan Wiranto sebagai Capres dan Cawapres, membuat dirinya waktu itu ditinggal teman-teman. Bagaimana pun di dalam politik berlaku adagium yang telah saya sebutkan.

Suatu malam, saya terkejut dan tidak percaya Bung Indra Jaya Piliang ditangkap karena mengkonsumsi narkoba jenis sabu di tempat hiburan di Tamansari, Jakarta Barat, Rabu, 13 September 2017, pukul 19.30 WIB. Saya kaget, pun teman yang lain. Tidak percaya. Belakangan polisi membenarkan. Ia akan direhabilitasi karena memakai narkoba, kurang dari 1 gram.

Tidak ada yang tahu, mengapa Indra Jaya Piliang yang tegar, kuat melawan arus kehidupan harus mengibarkan bendera putih, karena kalah. Apakah ini berkaitan dengan penghasilan yang diterimanya tidak sebagaimana ketika menjadi seorang peneliti? Bisa membuat makalah, mengadakan seminar, talkshow dan lain sebagainya?

Bagaimana pun, itu adalah masa lalu. Saya lihat aktivitasnya di berbagai bidang sudah kembali seperti semula.

Yang jelas, masyarakat sudah sangat mengenal Bung Indra Jaya Piliang yang lahir di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 19 April 1972 itu. Ayahnya bernama Boestami dengan gelar Datuak Nan Sati. Suku ayahnya Koto. Sementara ibunya bernama Yarlis dari suku Piliang. Koto dan Piliang adalah rumpun suku utama di di Minangkabau. Lareh Koto Piliang adalah sistem sub-budaya dalam budaya Minangkabau yang didirikan oleh Datuk Ketumanggungan.

Indra Jaya Piliang menamatkan kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah FIB UI. Selanjutnya meneruskan kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.

Citizen Jurnalis Suara Rakyat

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed