oleh

GPIM Minta Perusahaan Sawit di Indra Makmu Jangan Tutup Mata

purnamanews.com – Aceh Timur. Sejumlah jembatan darurat di Jalan Alue Ie Mirah – Julok semakin hari semakin rusak parah. Jembatan yang hampir ambruk dan renggang tersebut kerap menelan korban.

Akibatnya sejumlah angkutan hasil tadi warga dan mobil pribadi saat melintas kerap terperosok di tegah-tegah jembatan itu, bahkah kendaraa roda dua juga sering terjatuh.

Seperti yang terjadi di Desa Seneubok Baro, kecamatan Indra Makmu kabupaten Aceh Timur, Selasa (03/09/19), sejumlah mobil pengangkut hasil tani warga terperosok di jembatan penghubung antara kecamatan Indra Makmu – Julok itu.

Menurut pengendara yang dijumpai awak media ini, kondisi jembatan penghubung dua kecamatan itu telah lama keropos dan mengalami kerusakan, namun hingga kini tidak ada pihak yang perduli dan bersedia memperbaikinya, terutama pihak perkebunan kepala sawit yang tiap hari mondar mandir mengangkut hasil kebun miliknya.

Dia mengatakan, apabila tidak ada tindakan perbaikan, kerangka jembatan dalam waktu dekat akan runtuh, melihat tiap hari puluhan truk pengangkut sawit milik PTPN I JRU dan PTPN III JRS, serta PT Tualang Raya yang melintas over tonase. Ucap Yusrizzal saat melintas.

“Kami meminta perusahaan perkebunan itu segera membantu memperbaiki kerusakan jembatan, karena tiap hari dan malam puluhan truk milik mereka kerap melintas bahkan melebihi tonase, dan hal itu berlangsung puluhan tahun. Akibatnya yang di rugikan selalu masyarakat.” kata Yus.

Sementara itu, Gerakan Pemuda Indra Makmu (GPIM) meminta sejumlah Perusahaan Perkebunan Sawit di Indra Makmu jangan tutup mata melihat kerusakan jembatan yang telah mengakibatkan keresahan bagi Warga. Ujar Romi Syahputra selaku ketua GPIM.

Seharusnya para perusahaan tersebut sadar diri atas perbuatan angkutan mereka hingga berdampak pada kesejahtraan masyarakat. “Seharusnya tanpa diminta pun, perusahaan diharapkan cepat tanggap ketika mengetahui ada jalan dan jembatan yang rusak dan segera memperbaikinya. Toh, jalan dan jembatan itu tiap hari di laluinya.”Kata Romi.

Menurut Romi, keberadaan jalan dan jembatan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk kegiatan perekonomian dan aktivitas sehari-hari. Jika kerusakannya tidak ditangani dengan cepat maka dampaknya sangat luas, di antaranya mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat serta aktivitas rutin menjadi terhambat.

GPIM mengingatkan, perusahaan memiliki kewajiban menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) untuk membantu pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteran masyarakat, khususnya di sekitar perusahaan, bukan malah sebaliknya tutup mata, kata Ketua GPIM dengan nada keras.

Romi menilai, kehadiran perusahaan sawit itu jelas menjadi mala petaka bagi warga, selain dapat merusakan jalan dan jembatan, juga dapat mengancam kesehatan warga dari debu yang bertaburan akibat lintas truk mereka.

Bahkan, kata Romi debit air di sekitar perusahaan sangat berkurang, sehingga para petani terancam turun sawah tahun ini.

GPIM mengharapkan pemerintah terkait di kabupaten atau Provinsi agar segera turun meninjau terkait tonase dan juga lingkungan yang diduga telah di rusak perusaan tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media belum dapat mengonfirmasi pihak perusahaan. Tuturnya ke media ini.

Hendrik/Red

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed