oleh

Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya, melaksanakan kelas Literasi dwimingguan

PURNAMANEWS – Ahad, 24 Juni 2018 Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya, melaksanakan acara kelas Literasi dwimingguan Menulis bertempat di Aula Kedai Kopi Polem Sigli.

Acara yang dihadiri oleh 15 orang peserta ini mengangkat tema “Peran Penulis Muda Untuk Mewujudkan Generasi Aceh Cemerlang”. Acara dimulai pukul 16.00 WIB dengan dimoderatori oleh Riazul Iqbal dan dilanjutkan dengan materi oleh Alijullah Hasan Yusuf.

Sesi talkshow pada acara ini diisi oleh penulis dua buku best seller ini memaparkan tentang kisah beliau mulai menulis.

Tantangan menjadi penulis hebat pada kondisi saat ini. Aceh punya banyak penulis, misalnya @kba13 dan Musmarwan Abdulllah, tapi bukunya kurang dimarketing dengan baik oleh pusat, sama seperti nasib Aceh dan pahlawannya sejak dahulu kala. Aceh akan terus tertinggal kalau tidak mau menulis. Lanjutnya.

Kelebihan Aceh di luar negeri, di Paris misalnya orang Aceh pandai masak. Para pemasak (koki) di Paris sangat dihargai, karena masak bagian dari seni dan wisatawan ke Paris selain menikmati indahnya kota juga ingin merasa kulinernya.

Keadaan literasi Aceh saat ini berbeda dengan di masa dulu, rakyat Aceh dulu suka membaca, ada juga tradisi mendengar hikayat yang seorang membaca, yang lain berkumpul sekeliling pembaca itu untuk mendengarkannya.

Pak Ali, panggilan akrabnya juga menceritakan tentang prosesnya menulis, Saya menulis buku Penumpang Gelap selama 40 tahun, setelah disuruh tulis cerita saya oleh Pak Adam Malik, Bung Hatta dan Pak Sumitro Ayahnya Prabowo serta desakan keluarga yang ingin cerita ispiratif papanya dibukukan.

Saya menulis sehari kadang 10 halaman, saya tulis tangan dan disimpan, kadang menulis sehari 40 halaman lalu simpan lagi , kemudian ke mesin tik, kemudian baru saya tulis di komputer.Buku ini saya persembahkan untuk anak muda supaya menggalakan mereka menulis. Saya pernah menemani Abu Beureueh dan Abu Bereueh pernah berpidato di Aceh menceritakan kisah saya.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan peserta sangat antusias dan betah sampai magrib tiba untuk menanyakan dan mendengar pemaparan lebih lanjut dari Pak Ali yang dikenal juga sebagai Lurah Paris ini.

Acara ditutup dengan bacaan alhamdalah dan foto bersama anggota dan pemateri FAMe yang pulang jauh-jauh dari Paris, Prancis untuk berlebaran di Aceh. Tempat lahir pak Alijullah.

(is/red)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed