oleh

Di Persekusi Dibatam, Prabowo Temui Neno Warisman

[caption id="attachment_2200" align="alignnone" width="720"] Mantan Danjen Kopassus ini mengungkapkan kehadirannya bersama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, ke rumah Neno adalah wujud simpati atas sejumlah kasus yang sempat dialami wanita berhijab itu. Salah satunya adalah karena terjadinya dugaan persekusi di bandara Batam,[/caption]

PUNAMANEWS – JakartaKetua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, membeberkan sejumlah alasan dirinya mengunjungi rumah aktivis, budayawan yang juga politisi PKS, Ustazah Neno Warisman, pada Rabu 31 Juli 2018.

Mantan Danjen Kopassus ini mengungkapkan kehadirannya bersama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, ke rumah Neno adalah wujud simpati atas sejumlah kasus yang sempat dialami wanita berhijab itu. Salah satunya adalah karena terjadinya dugaan persekusi di bandara Batam, dan dugaan teror pengrusakan mobil beberapa waktu lalu.

“Ingin jumpa beliau. Saya kenal lama, pejuang perempuan, aktivis, budayawan. Jadi saya sudah lama kenal beliau. Sudah lama kagum sama beliau, dan saya prihatin beberapa waktu yang lalu, ada upaya untuk mengintimidasi mbak Neno ini. Saya juga kaget sekali ketika mobilnya dirusak di depan rumahnya,” kata Prabowo pada wartawan di kediaman Neno di kawasan Griya Tugu Asri, Depok, Jawa Barat.

Berita Terkait: Pernyataan Tim Advokasi#2019 GantiPresiden, Soal Penolakan Neno Warisman di Batam 

Kemudian, kata Prabowo, ia juga prihatin dengan peristiwa yang dialami Neno di Batam, ketika sedang menjalankan haknya sebagai warga negara, hak menyatakan pendapat, yang telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar.

“Hak menyatakan pendapat adalah hak universal. Kita sebagai negara demokrasi, sebagai sebuah republik, kita sangat prihatin kalau ada warga kita yang dihalangi untuk menyatakan pendapat, enggak boleh keluar dari ruangan bandara. Kita ini negara bebas. Masa ada warga negara yang enggak boleh ke wilayah NKRI, inikan enggak baik. Kita ingin demokrasi yang sejuk,” katanya.

Menurut Prabowo, apa yang dilakukan Neno yang menyuarakan aspirasinya untuk mengganti presiden pada 2019 adalah hak dasar yang dimiliki semua warga negara.

“Beda pendapat biasa. Ada yang mau ganti presiden, ada yang mau pertahankan presiden ya monggo silakan, biar rakyat yang menentukan. Kita mau ganti nahkoda kapal, kita mau ganti bupati, ganti kepala sekolah itu biasa. Mengganti pejabat itu biasa, enggak usah dibikin heboh. Ini adalah negara yang dewasa, negara yang beradab. Jadi tidak usah dijadikan masalah yang terlalu tegang gitu. Ini harapan saya.”

(tim/red)

Baca Sumber

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed