oleh

Cegah Hipoglikemia, Pasien Diabetes Bisa Salat Tarawih 23 Rakaat Selama Bulan Puasa

RAMADAN menjadi momen yang membuat para pengidap diabetes dilema. Bagaimana tidak, bulan yang penuh berkah ini, para pengidap diabetes merasa wajib menunaikan ibadah puasa, sementara di sisi lain mereka harus mengonsumsi obat-obatan secara rutin.

Selain itu, puasa Ramadan pun menjadi tantangan tersendiri bagi pengidap diabetes, sebab mereka dituntut untuk beradaptasi dengan pola makan yang berbeda dan konsumsi obat yang berbeda pula, agar gula darah bisa tetap terkontrol. Di Indonesia, pengidap diabetes telah mencapai angka 10,3 juta orang dan angka tersebut diprediksi akan terus meningkat menjadi 16,7 juta pada 2045 mendatang.

“Sebagai penyakit tidak menular dengan jumlah penderita relatif tinggi, diabetes merupakan salah satu penyakit yang menyita perhatian banyak orang, termasuk kami pihak pemerintah. Kami saat ini fokus pada pengendalian faktor risiko diabetes melalui upaya promotif dan preventif,” jelas dr. Sylviana Andinisari, M.Sc, sebagai Kepala Seksi Gangguan Metabolik Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam acara Diskusi Media Kampanye Novonordisk Ramadan dan Diabetes, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

 

Sylviana juga menjelaskan, pentingnya deteksi dini sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan resiko penyakit tidak menular termasuk juga diabetes perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Sebab, menurutnya, selama ini sebagian masyarakat baru datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan ketika sudah mengeluh sakit dan ditemukan komplikasinya.

“Kami juga terus mendorong antara kementerian dan lintas sektor terkait lainnya untuk meningkatkan kerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga semua kebijakan yang ada berpihak pada kesehatan, terutama dalam hal ini mendukung upaya pencegahan dan pengendalian diabetes yang terus meningkat,” imbuhnya.

Cek Gula Darah

Dalam momen Ramadan seperti sekarang ini, banyak pengidap diabetes yang nekat berpuasa sehingga, risiko hipoglikemia selama bulan suci bisa saja terjadi akibat berpuasa. Ditambah lagi, pengetahuan pasien diabetes yang kurang tentang kesehatannya sendiri dan risiko yang diakibatkan oleh hipoglikemia bisa memperburuk kondisi tubuh.

“Puasa dan diabetes jelas ada kaitannya, karena bisa menyebabkan hipoglikemi (gula darah terlalu rendah-red). Pasien biasanya tidak mengerti, sehingga memilih tetap berpuasa, dokter pun tidak memiliki kemampuan untuk melarang, mau tidak mau dokter memberikan saran untuk meminimalkan risiko saat puasa,” ucap Dr. dr. Em Yunir, SpPD – KEMD, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

 

Saat puasa pasien diabetes akan mengalami perubahan produksi insulin, bisa karena penyakitnya atau karena obat-obatan anti diabetes, atau gangguan produksi glucagon (lawan insulin). Pada pengidap diabetes yang berat, puasa akan menyebabkan pemecahan glikogen serta akan terjadi pemecahan lemak yang berlebihan.

“Pasien diabetes yang memaksa ingin berpuasa harus memonitor gula darahnya saat sebelum berbuka puasa dan dua jam setelah berbuka puasa, sebelum tidur, sebelum sahur, tengah hari, dan sesuai kebutuhan, hal ini dilakukan agar bisa mencegah risiko hipoglikemi. Mereka juga bisa melakukan aktivitas fisik satu jam sesudah berbuka puasa, seperti salat tarawih 23 rakaat, namun harus menghindari olahraga menjelang berbuka puasa, dan melakukan perubahan pengobatan saat puasa dikonsultasikan dengan dokter,” sambung Yunir.

Sumber: https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/30/481/1904592/cegah-hipoglikemia-pasien-diabetes-bisa-salat-tarawih-23-rakaat-selama-bulan-puasa

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed