Momentum Penguatan Industri Baja Nasional di Tengah Gejolak Selat Hormuz

- Jurnalis

Kamis, 9 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gejolak geopolitik di kawasan Teluk, khususnya gangguan di Selat Hormuz, menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri baja nasional. Disrupsi jalur logistik global tidak hanya meningkatkan biaya energi dan distribusi, tetapi juga memicu perubahan arus perdagangan baja dunia.

Perkuat Ketahanan dan Respons Kebijakan

Merespons kondisi tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) terus memperkuat strategi melalui diversifikasi sumber pasokan, peningkatan efisiensi, serta penguatan rantai pasok yang lebih adaptif.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan,  yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental industri.

Baca Juga :  Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca

“Situasi ini menjadi momentum untuk meningkatkan ketahanan industri baja nasional melalui efisiensi, keandalan pasokan, dan daya saing yang berkelanjutan agar arah Asta Cita Bapak Presiden Prabowo tetap terjaga,” ujar Dr. Akbar Djohan.

Krakatau Steel juga mendorong dukungan kebijakan yang responsif, penguatan pengawasan perdagangan guna menjaga keseimbangan antara kelancaran pasokan dan perlindungan pasar domestik.

Tekanan Ganda Industri Nasional

Pengamat Industri Baja dan Pertambangan dari Steel & Mining Insights, Widodo Setiadharmaji, menyebut gangguan tersebut telah berkembang dari hambatan logistik menjadi disrupsi sistemik yang memengaruhi distribusi bahan baku dan produk baja secara global.

Baca Juga :  Pelindo Terminal Petikemas Tunjukkan Kinerja Positif di Tengah Gejolak Global

Menurutnya, industri baja nasional kini menghadapi tekanan simultan. Di satu sisi, pasokan bahan baku semi-finished seperti slab dan billet berisiko terganggu akibat hambatan distribusi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pergeseran arus perdagangan global berpotensi meningkatkan masuknya produk baja impor ke pasar domestik dengan harga kompetitif, sehingga menekan harga dan pangsa pasar produsen dalam negeri.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Pelindo Multi Terminal Edukasi Program Rumah Kelola Sampah kepada Mahasiswa
Kartini di Lintas Rel: Petugas LRT Jabodebek Berkebaya, Ajak Masyarakat Rayakan Emansipasi
Nanovest Ekspansi ke Pasar Global, Sepakati Kerjasama Strategis Dengan Fasset
Mengapa Pasangan Mata Uang Tertentu Lebih Likuid di Pasar Forex
Pelindo Terminal Petikemas Tunjukkan Kinerja Positif di Tengah Gejolak Global
Bittime Catatkan Lonjakan Swap USDT/IDR Hingga 57% Di Tengah Tekanan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS
Pembiayaan Mobil Baru BRI Finance Melonjak Tajam, Tumbuh 8 Kali Lipat di Awal 2026
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Sinergi Riset dan Industri, PT RPN Jalin Kemitraan Strategis dengan Pascal Biotech
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 14:42 WIB

Pelindo Multi Terminal Edukasi Program Rumah Kelola Sampah kepada Mahasiswa

Sabtu, 25 April 2026 - 10:23 WIB

Kartini di Lintas Rel: Petugas LRT Jabodebek Berkebaya, Ajak Masyarakat Rayakan Emansipasi

Jumat, 24 April 2026 - 19:08 WIB

Nanovest Ekspansi ke Pasar Global, Sepakati Kerjasama Strategis Dengan Fasset

Jumat, 24 April 2026 - 18:45 WIB

Mengapa Pasangan Mata Uang Tertentu Lebih Likuid di Pasar Forex

Jumat, 24 April 2026 - 18:22 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Tunjukkan Kinerja Positif di Tengah Gejolak Global

Berita Terbaru

Business

Imbauan Taat di Perlintasan Kereta Demi Keselamatan

Sabtu, 25 Apr 2026 - 14:53 WIB