Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional, Ciptakan Nilai Tambah Hingga US$3,8 triliun

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Langkah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam mineral bauksit, menjadi alumina dan aluminium kini memasuki babak baru yang lebih progresif melalui ekspansi smelter alumina di dalam negeri.

Salah satu proyek yang digencarkan oleh pemerintah yakni fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi yang berlokasi Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang merupakan inisiasi dari Anggota Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium.

Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi struktur industri pertambangan nasional, dari yang selama ini didominasi ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah guna mendukung pertumbuhan ekonomi 8%.

Adapun, Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. Jika seluruh cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga US$40 per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar US$311,2 miliar atau setara Rp5.238 triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp16.834 per dolar AS.

Nilai ekonomi dari sumber daya alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut. Bila diproses lebih lanjut melalui proses pemurnian, maka 3 ton bauksit akan menghasilkan 1 TON alumina.

Baca Juga :  International Relations BINUS University Perkuat Jejaring Global lewat EU Values International Conference, Hadirkan 80+ Peneliti dari 40 Perguruan Tinggi Dunia

Maka, dari cadangan yang sama, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi harga US$400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar US$1.037 miliar atau setara Rp17.435 triliun.

Pada tahap produksi aluminium, setidaknya diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium. Dengan demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga US$3.000 per metrik ton, dan total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar US$3.885 miliar atau setara Rp65.145 triliun.

Perbandingan tersebut menunjukkan besarnya potensi value creation yang dihasilkan dari hilirisasi bauksit, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai fondasi industri aluminium nasional.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai bahwa langkah hilirisasi bauksit yang diinisiasi MIND ID melalui proyek ini menunjukkan transformasi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.

“Di 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas mineral,” ujar Ferdy dalam keterangannya.

Baca Juga :  Kementerian PU Sudah Mengalirkan Air Bersih Kembali Melalui Sumur Bor, Pulihkan Kehidupan dan Ibadah Warga Aceh Tamiang Pascabencana

Kajian International Aluminium Institute menyebutkan kapasitas pemurnian alumina adalah indikator utama daya saing industri aluminium suatu negara.

Dengan beroperasinya hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini menempati posisi strategis untuk menyuplai kebutuhan aluminium global, khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, juga menyatakan bahwa keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan larangan ekspor bijih bauksit mampu dioptimalkan untuk membangun kedaulatan industri yang berkelanjutan.

Di sisi ekonomi, proyek SGAR menciptakan dampak berganda di Kalimantan Barat melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan infrastruktur.

Secara keseluruhan, penguatan hilirisasi bauksit melalui SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah untuk mengamankan bahan baku industri strategis sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar mineral dunia.

Press Release ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

KA Pandanwangi Tembus 1,15 Juta Penumpang di 2025, Andalan Mobilitas Wisata Tapal Kuda
Ini Tanggapan Bittime Terkait Dampak Inflasi Amerika Serikat dan Kebijakan Tarif Trump Pekan Ini
Topremit Kembali Raih Award “Penyedia Jasa Transfer Terbaik 2025” dari BI
Transformasi Terbaru Mobile Apps Travoy Jasa Marga: Hadirkan Pelayanan Penuh Arti
Jumlah Penumpang KAI Bandara Medan dan Yogyakarta Tumbuh 20 Persen Sepanjang 2025
Selama Angkutan Nataru 2025/2026, KAI Daop 2 Bandung Amankan 273 Barang Tertinggal Pelanggan
Jejak Prestasi 2025: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Cyber Security BINUS UNIVERSITY Tembus Black Hat Europe
Pensiun Dini di Usia Berapa dan Bagaimana Persiapannya?
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 07:33 WIB

Ini Tanggapan Bittime Terkait Dampak Inflasi Amerika Serikat dan Kebijakan Tarif Trump Pekan Ini

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:57 WIB

Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional, Ciptakan Nilai Tambah Hingga US$3,8 triliun

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:45 WIB

Topremit Kembali Raih Award “Penyedia Jasa Transfer Terbaik 2025” dari BI

Kamis, 15 Januari 2026 - 22:24 WIB

Transformasi Terbaru Mobile Apps Travoy Jasa Marga: Hadirkan Pelayanan Penuh Arti

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:08 WIB

Jumlah Penumpang KAI Bandara Medan dan Yogyakarta Tumbuh 20 Persen Sepanjang 2025

Berita Terbaru