Lebaran Depok 2026 Tonjolkan Pelestarian Budaya, Khususnya Budaya Betawi

- Jurnalis

Jumat, 3 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H. Hamzah, S.E.,M.M,  Ketua Komisi B DPRD Kota Depok yang terpilih sebagai Ketua Pantia Lebaran Depok 2026 (Foto: Purnamanews/Yudi Bahtiar)

H. Hamzah, S.E.,M.M, Ketua Komisi B DPRD Kota Depok yang terpilih sebagai Ketua Pantia Lebaran Depok 2026 (Foto: Purnamanews/Yudi Bahtiar)

DEPOK | Purnamanews.com – Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, H. Hamzah, dipercaya memimpin kepanitiaan Lebaran Depok 2026 setelah melalui musyawarah lintas unsur, melibatkan pemerintah daerah, DPRD, komunitas KOOD (Kumpulan Orang-Orang Depok), hingga unsur TNI dan kepolisian.

Di bawah kepemimpinannya, perhelatan tahunan ini tidak hanya diposisikan sebagai agenda hiburan, melainkan sebagai ruang edukasi budaya yang menghidupkan kembali identitas lokal di tengah arus modernisasi.

H. Hamzah menegaskan, konsep acara tahun ini tetap berpijak pada pelestarian budaya Betawi sebagai akar kultural Kota Depok, sekaligus membuka ruang bagi keberagaman budaya Nusantara untuk tampil secara harmonis.

“Fokus utama kita tetap pada pelestarian budaya, khususnya budaya Betawi dan kekayaan budaya Nusantara. Namun kali ini kita hadirkan dengan rangkaian yang lebih intens dan beragam,” ujarnya saat ditemui di Balai Kota Depok, Kamis (2/4).

Selama lima hari pelaksanaan, mulai 5 hingga 9 April 2026, masyarakat akan disuguhkan beragam pertunjukan tradisional seperti lenong, tarian khas daerah, hingga hiburan rakyat yang sarat nilai historis dan filosofis. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan bagi generasi muda untuk memahami akar budayanya.

Baca Juga :  Survei Stockpile dan Pemantauan Lereng Tambang Otomatis dengan DJI Dock 3

Lebaran Depok tahun ini juga dirancang sebagai media pembelajaran kontekstual. Panitia akan menghadirkan simulasi kehidupan masyarakat Depok tempo dulu, mulai dari tradisi rantangan yakni kebiasaan berbagi makanan antarwarga hingga proses pembuatan dodol dan aktivitas membersihkan perabot rumah tangga sebagai bagian dari tradisi menyambut hari besar.

Melalui pendekatan ini, masyarakat, khususnya generasi muda, diajak untuk tidak sekadar mengenal budaya secara simbolik, tetapi juga memahami nilai gotong royong, kebersamaan, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

“Ini bukan hanya hiburan, tapi juga ruang edukasi. Kita ingin generasi sekarang mengenal bagaimana kehidupan orang Depok di masa lalu,” jelas Hamzah.

Sebagai bentuk penguatan literasi budaya, panitia juga akan melibatkan dunia pendidikan. Pada agenda penutupan, direncanakan pawai budaya yang melibatkan para guru sebagai representasi agen edukasi, sekaligus menjadi langkah awal integrasi nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran di sekolah.

Lebih lanjut, H. Hamzah menilai, pengenalan budaya sejak dini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun identitas generasi. Ia pun membuka peluang agar budaya lokal dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Kota Depok.

Baca Juga :  Walikota Depok Rencana Perluas RSSG Tingkat TK/PAUD/RA, Setelah Sukses Tingkat SMP/MTs

“Anak-anak Depok perlu memahami akar budayanya, mengenal leluhur mereka, dan mengetahui bagaimana kehidupan masa lalu yang membentuk jati diri hari ini,” tuturnya.

Pembukaan Lebaran Depok 2026 sendiri akan digelar serentak di tiga wilayah, yakni Tapos, Cipayung, dan Bojongsari, sebelum berlanjut ke rangkaian kegiatan lainnya hingga penutupan.

Selain itu, panitia juga tengah menyiapkan penampilan spesial dari band ternama untuk menambah daya tarik acara, meski masih dalam tahap finalisasi kontrak.

Dengan konsep yang lebih kaya, edukatif, dan inklusif, Lebaran Depok 2026 diharapkan menjadi momentum strategis dalam merawat warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat di tengah dinamika zaman.

“Budaya tak hanya menjadi warisan, tetapi arah yang menuntun jati diri. Lewat Lebaran Depok, kita ingin memastikan generasi mendatang memiliki pijakan dalam memahami siapa dirinya. Di tengah perubahan zaman, budaya adalah jembatan yang menjaga identitas kita tetap hidup,” tutup H. Hamzah. (YB)

 

 

 

 

 

 

Penulis : Yudi Bahtiar

Berita Terkait

KETUM Aliansi LSM Ormas Peduli Kepri: Narkoba di Laut Terungkap, Peredaran Terbuka di Darat Harus Jadi Prioritas
Kasus Caroline Disorot, IPJI Kepri Desak Pengusutan hingga ke Akar
Di Acara Peringatan Hari Kartini Wiwin Winarti Ajak Perempuan Indonesia Bangkit dan Berdaya
Pengurus PPP Depok Siap Lawan Keputusan DPP
Medio Juni 2026, KTNA Cilegon Akan Bertolak Ke Gorontalo
Tambang Pasir Ilegal di Bintan Memanas: (A. Hsb) Ancaman, Emosi, dan Dugaan Mafia di Balik Perusakan Lingkungan
Bupati Tegal Tekankan Peran Keluarga dalam Pencegahan Penyalahgunaan Obat
Digitalisasi Bansos Dikebut, Camat Diminta Kawal Data hingga Desa
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 04:13 WIB

KETUM Aliansi LSM Ormas Peduli Kepri: Narkoba di Laut Terungkap, Peredaran Terbuka di Darat Harus Jadi Prioritas

Rabu, 22 April 2026 - 03:52 WIB

Kasus Caroline Disorot, IPJI Kepri Desak Pengusutan hingga ke Akar

Selasa, 21 April 2026 - 21:03 WIB

Di Acara Peringatan Hari Kartini Wiwin Winarti Ajak Perempuan Indonesia Bangkit dan Berdaya

Selasa, 21 April 2026 - 18:45 WIB

Pengurus PPP Depok Siap Lawan Keputusan DPP

Selasa, 21 April 2026 - 13:18 WIB

Medio Juni 2026, KTNA Cilegon Akan Bertolak Ke Gorontalo

Berita Terbaru