PURNAMA NEWS.COM | KEDIRI KOTA — Di sebuah gang sempit di kawasan padat penduduk RT 28 RW 10, Lingkungan Tirtoudan, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, sebuah lukisan Garuda Pancasila menempel kokoh di dinding. Lukisan itu sederhana, digoreskan dengan cat pada tembok tepat di bawah bangunan Pos Kamling. Namun bagi warga sekitar, lukisan tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi Ia adalah penanda, ikon, sekaligus jejak hidup seorang tokoh kampung : almarhum Slamet Pribadi.
Slamet Pribadi, yang semasa hidupnya pernah menjabat Ketua RT 28 RW 10, dikenal warga sebagai sosok yang peduli dengan lingkungan. Menjelang akhir hayatnya, ia menyempatkan diri menyelesaikan lukisan Garuda Pancasila itu. Tidak ada seremoni, tidak pula publikasi. Yang ada hanya ketekunan seorang warga yang ingin meninggalkan sesuatu yang berarti bagi kampungnya.
“Kalau ada orang bertanya, di mana RT 28 RW 10, biasanya cukup kami jawab : cari saja lukisan Garuda Pancasila di gang masuk. Pasti ketemu,” tutur Rizky, salah satu warga yang sejak awal ikut menyaksikan proses melukis itu.
Ikon Gang RT 28 RW 10
Lukisan Garuda Pancasila karya eks – Ketua RT 28 RW 10, Slamet Pribadi, bukan hanya menjadi penanda arah. Lebih jauh, Ia tumbuh menjadi ikon yang melekat di ingatan warga. Tak jarang, setiap tamu yang berkunjung, bahkan kurir pengantar paket, akan lebih mudah menemukan lokasi kawasan RT 28 RW 10 karena lukisan itu.
“Seperti jadi identitas kampung. Rasanya ada kebanggaan tersendiri, karena lambang negara hadir di lingkungan kami dengan cara yang unik,” ujar salah seorang warga lainnya yang tinggal tak jauh dari Pos Kamling.
Bagi warga setempat, lukisan Garuda Pancasila itu juga dianggap sebagai simbol persatuan. Letaknya di bawah pos ronda menegaskan makna kebersamaan, seakan mengingatkan bahwa keamanan kampung bukan hanya tugas satu pihak tertentu saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, berlandaskan semangat Pancasila.
Jejak yang Abadi
Slamet Pribadi telah berpulang, namun lukisan Garuda Pancasila yang ditinggalkannya tetap bertahan. Meski cat mulai pudar diterpa panas dan hujan, namun maknanya tidak luntur. Dan warga setempat berinisiatif menjaga serta merawatnya.
“Setiap kali lihat lukisan itu, kami teringat almarhum Pak Slamet. Beliau meninggalkan sesuatu yang sederhana tapi bermakna besar. Itu pengingat agar kami tetap rukun, guyub, dan berpegang pada nilai Pancasila,” kata Rizky lagi.
Di tengah deru kehidupan kota yang kian modern, kisah lukisan Garuda Pancasila di Gang RT 28 RW 10 Lingkungan Tirtoudan menjadi catatan kecil tentang bagaimana sebuah karya sederhana dapat menjelma menjadi penanda ruang sekaligus penanda kenangan.
Seperti Pancasila yang menjadi dasar negara, lukisan itu menjadi dasar ingatan warga: bahwa di balik gang sempit dan padat, ada jejak seorang warga yang mengabdikan hidupnya bagi lingkungan—bukan dengan kata-kata, melainkan lewat sebuah lukisan. (*her.144 )







