Purnama News|Batam Aktivitas mencurigakan terpantau di sebuah gudang pendingin milik seorang pengusaha berinisial Hasan di kawasan industri Batam. Gudang tersebut diduga menyimpan daging impor ilegal yang kemudian dicampur dengan daging babi sebelum dipasarkan ke masyarakat. Jumat, 5 September 2025.
Dari hasil penelusuran, daging impor itu diduga masuk ke Batam melalui sejumlah pelabuhan tikus di wilayah hinterland, khususnya di pesisir Batu Ampar dan Tanjunguncang. Modusnya, kapal kayu atau kontainer kecil mengangkut daging beku dari Singapura dan Malaysia, kemudian dibongkar malam hari tanpa melalui jalur resmi Bea Cukai dan Karantina.
Setelah itu, daging dibawa menggunakan truk box menuju gudang milik Hasan. Di gudang inilah daging impor ilegal dipindahkan ke kontainer pendingin besar (reefer container) dan sebagian dicampur dengan daging babi. Selanjutnya, daging tersebut didistribusikan ke sejumlah pasar, restoran, bahkan ke hotel dengan label halal.
Seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, praktik ini sudah berlangsung cukup lama. “Jalur masuknya lewat pelabuhan tikus, jadi tidak kena karantina dan tidak bayar pajak. Di gudang, daging babi dipotong kecil-kecil lalu dicampur dengan daging sapi impor. Setelah itu diedarkan seolah-olah daging halal,” ungkapnya.
Dugaan ini menimbulkan keresahan besar, terutama di kalangan konsumen Muslim. Selain aspek kehalalan, kualitas daging impor ilegal yang lolos karantina juga dikhawatirkan mengandung penyakit atau tidak layak konsumsi.
Hingga kini, belum ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait seperti Bea Cukai, Karantina, maupun Dinas Perdagangan. Padahal, praktik ini jelas melanggar UU Pangan, UU Perlindungan Konsumen, serta pidana perdagangan ilegal.
Masyarakat mendesak agar aparat segera melakukan investigasi dan penggerebekan di gudang Hasan, sekaligus menutup jalur distribusi daging ilegal melalui pelabuhan tikus. “Kalau tidak segera diusut, bisa jadi masyarakat luas akan terus memakan daging haram tanpa sadar,” kata seorang warga sekitar.







