Mengendus Jejak Bangsa Turki dan Lada Sicupak di Bumi Nurul A’la

- Jurnalis

Minggu, 12 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PurnamaNews.com  Aceh Timur

 

Momentum Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke 8 yang dipusatkan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, memiliki nilai khas tersendiri. Hal tersebut sebagaimana terlihat di Anjungan Kabupaten Aceh Timur yang memamerkan sejumlah senjata perang kuno. Salah satunya Meriam Turki atau sering disebut Meriam Lada Sicupak.

Meriam Turki atau sering disebut Meriam Lada Sicupak paling diburu oleh para pengunjung saat ke anjungan Kabupaten Aceh Timur.

Meriam Lada Sicupak menyimpang berjuta kenangan bagi para laskar Aceh saat melawan tentara belanda dan kaum kolonial protugis pada tahun 700 M, ketika memasuki Aceh melewati lautan Peureulak. Meriam tersebut diberinama dengan sebutan “Meriam Lada Sicupak” yang dibeli dari Negeri Turki.

Meriam sepanjang lebih kurang dua meter tampak perkasa yang dibawah anjungan Kabupaten Aceh Timur.

Sebelum Meriam Turki tersebut ditemukan oleh seorang penemu yaitu Tgk Muhammad Ben Wahab (almarhum_red), tepatnya pada hari selasa, Tanggal 12 Desember 1976.

Pada masa Panglima Nyak Dum merupakan panglima yang diutus Sulthan Iskandar Muda untuk menjalin hubungan dengan Turki dan meminta bantuan militer untuk memerangi protugis.

H. M. Zainuddin dalam buku Singa Aceh, ia menjelaskan hubungan Kerajaan Aceh denga Turki pertama kali dibangun oleh Sulthan Ali Riayat Syah Al Qahar yang memerintah dari Tahun 1557-1568 dengan Sulthan Salim Khan.

Pada masa itu, Sulthan Salim Khan mengikat perjanjian persahabatan dengan kerajaan Aceh dan mengirim sekitar 40 orang ahli alteleri untuk melatih pasukan meriam dan pasukan berkuda di Aceh.

Perjanjian persahabatan itu kemudian dilanjutkan oleh raja Aceh, selanjutnya Sulthan Alauddin Mansur Syah yang memerintah pada tahun 1577-1588. Masa itu Turki menjamin dan melindungi kerajaan Aceh dari ganguan pihak lain.

Kemudian, ketika tahta turki dipegang oleh Sulthan Mustafa Khan, perjanjian itu dilanjutkan oleh Sulthan Aceh berikutnya, Sulthan Alauddin Riayat Syah Saidil Mukamil yang memerintah pada tahun 1588-1604. Pada masa itu Sulthan Mustafa Khan mengirim sebuah bintang kehormatan kepada Sulthan Aceh, serta mengizinkan kapal-kapal perang kerajaan Aceh memakai bendera Turki.

Baca Juga :  Segini Harta Kekayaan Ansar Ahmad Gubernur Kepri yang Memimpin Wilayah Rajanya Ikan Kerapu, Tanah Milik Ansar Ahmad di Tanjungpinang Capai Rp 2,1 M!

Kala itu Aceh dipimpin Sulthan Iskandar Muda, hubungan dengan turki agak merengang karena Iskandar Muda masa itu lebih Fokus membangun dalam negeri setelah kekalahan pendahulunya dalam perang disemenanjung Malaka.

Setelah rakyat dalam negeri Aceh benar-benar makmur, Sulthan Iskandar Muda membuka kembali hubungan dengan Turki yang selama beberapa tahun sudah agak merengang.

Pada masa itu Sulthan Iskandar Muda menyiapkan tiga buah kapal untuk berangkat ke Turki. Kapal-kapal itu berisi lada yang akan diserahkan ke raja Turki sebagai persembahan dari Aceh. Sulthan Iskandar Muda Juga meminta kepada Mufti Kerajaan Syeikh Nurddin Ar Raniry untuk menulis sepucuk Surat dalam Bahasa Arab.

Kemudian surat itu disampul dan dibalut dengan kain sutera sebagai bentuk kemuliaan. Untuk membawa surat itu ditugaskan Panglima Nyak Dum sebagai kepala rombongan.

Dalam rombongan khalifah Panglima Nyak Dum juga disertakan dua juru bahasa yang ditunjuk oleh Syeikh Nurddin Ar Raniry, satu ahli bahasa arab dan satu orang lagi ahli bahasa indi.

Menurut H. M. Zainuddin, Panglima Nyak Dum merupakan sosok pemberani yang kebal terhadap senjata tajam dan peluru. Panglima Nyak Dum juga fasih dalam berbahasa arab, maka ditunjuk sebagai ketua rombongan.

Dalam perjalanan, ketiga kapal utusan Aceh tersebut terbawa badai. Awalnya dari pelabuhan Aceh mereka hendak menuju ke Madras namun terbawa angin ke Calcuta. Setelah beberapa lama disana, setelah menunggu angin teduh, mereka berlayar menyusuri pantai Coromondal, sepanjang Teluk Bangala hingga kemudian sampai ke Madras.

Setelah beberapa lama di Madras, delegasi Aceh melanjutkan perjalanan ke Ceylon terus ke Teluk Parsi sampai ke Bombay. Dari sana kemudian menyebrang ke laut Sikatra menuju Madagaskar terus ke tanjung harapan Afrika Selatan. Selanjutnya rombongan Panglima Nyak Dum menuju laut Atlantik sampai ke Istambul, Turki.

Perjalanan dari Aceh menuju Turki itu menghabiskan waktu sampai dua tahun. Bekal dalam perjalanan sudah habis. Lada yang dikirim sebagai persembahan untuk Sulthan Turki juga dijual di Bombay untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan panjang tersebut.

Baca Juga :  Pemilu 2024 Pengalaman Jadi Ketua KPPS yang Bekerja 29 Jam di Hari Pemungutan Suara

Ketika kapal masuk ke pelabuhan di Konstatinopel, timbul keresahan dari delegasi Aceh itu karena barang persembahan Sulthan Iskandar Muda untuk raja Turki sudah dijual selama perjalanan, yang tersisa hanya sepuluh goni lada.

Panglima Nyak Dum kemudian mengambil secupak lada dari salah satu goni itu dan membungkuskan dalam kain kuning, sebagai isyarat bahwa bingkisan itu dipersembahkan kepada sulthan Turki dari sultan Aceh.

Rombongan Panglima Nyak Dum disambut oleh syahbandar dan diantar ke istana. Sampai di sana Panglima Nyak Dum menyerahkan surat dari Sulthan Iskandar Muda beserta bingkisan secupak lada kepada raja Turki.

Ia juga menjelaskan bahwa bingkisan dari Aceh yang dibawanya telah banyak habis dijual untuk bekal selama perjalanan karena kapal mereka terbawa badai pada rute yang salah. Sulthan Turki memaklumi hal itu.

Usai jamuan, Panglima Nyak Dum menceritakan kepada Sulthan Turki tentang tindakan Portugis di Selat Malaka yang telah mengganggu perairan Aceh. Pihak Turki menegaskan bahwa akan terus menjaga hubungan baik dengan Kerajaan Aceh, termasuk membantu Sulthan Aceh dalam menghalau gangguan Portugis di Selat Malaka.

Setelah sekitar tiga bulan utusan Aceh itu berada di Turki, Panglima Nyak Dum dan rombongannya kembali ke Aceh. Sebagai balasan tanda memperkuat persahabatan, Sulthan Turki mengirim sebuah meriam dan alat-ata perang untuk Sulthan Aceh.

Meriam itulah yang kemudian dikenal sebagai meriam “Lada Sicupak”. Dalam rombongan Panglima Nyak Dum juga diikutserakan sebanyak 12 orang Turki ahli militer dan pelayaran untuk mendampingi mereka sampai ke Aceh.

Bantuan Turki itu oleh Muhammad Said dihubungkan dengan kisah meriam lada sicupak. Pemberian Turki berupa meriam dan bendera kepada Kerajaan Aceh merupakan bentuk pengakuan Turki bahwa Kerajaan Aceh berada di bawah perlindungan khalifah Islam.

Bantuan Turki kepada Aceh itu bukan saja sebagai bantuan militer belaka, tapi memiliki arti politik yang menjelaskan tentang kedudukan Aceh dalam kesatuan kekhalifahan Islam.

Sejarah Meriam Lada Sicupak milik Kerajaan Turki bukti sejarah hubungan Kerajaan Aceh-Turki di masa lalu.

Berita Terkait

LAPAS CILEGON SELALU TERBUKA BAGI SEMUA YAYASAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM UNTUK OPTIMALKAN PEMBINAAN KESADARAN HUKUM WARGA BINAAN
Kunjungan Kerja Ny. Retno Yan Fitri Ketua Bhayangkari Daerah Kepri ke Polres Bintan
KEMENKUMHAM BANTEN IKUT SERTAKAN LAPAS CILEGON DALAM PENCANANGAN PELAYANAN PUBLIK BERBASIS HAK ASASI MANUSIA (P2HAM)
Keseriusan Bawaslu Lamsel dalam melakukan penindakan dugaan many politik di nantikan
Pj Bupati Aceh Barat Lepas Peserta Napa Tilas Memperingati 125 Teuku Umar Johan
Dugaan Pungli Uang Perpisahan di SDN 182 Kota Pekanbaru, Segini Besarannya
Pemkab Nagan Raya Rakor Deteksi Dini, Preventif Stunting, harapanya Tidak Ada Stunting di Nagan Raya
TINGKATKAN SINERGI DAN KOLABORASI, LAPAS CILEGON IKUTI FRIENDLY MATCH TENIS DI KANWIL BANTEN
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Februari 2024 - 06:47 WIB

LAPAS CILEGON SELALU TERBUKA BAGI SEMUA YAYASAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM UNTUK OPTIMALKAN PEMBINAAN KESADARAN HUKUM WARGA BINAAN

Kamis, 22 Februari 2024 - 15:53 WIB

Kunjungan Kerja Ny. Retno Yan Fitri Ketua Bhayangkari Daerah Kepri ke Polres Bintan

Kamis, 22 Februari 2024 - 04:09 WIB

KEMENKUMHAM BANTEN IKUT SERTAKAN LAPAS CILEGON DALAM PENCANANGAN PELAYANAN PUBLIK BERBASIS HAK ASASI MANUSIA (P2HAM)

Rabu, 21 Februari 2024 - 23:39 WIB

Keseriusan Bawaslu Lamsel dalam melakukan penindakan dugaan many politik di nantikan

Rabu, 21 Februari 2024 - 11:01 WIB

Pj Bupati Aceh Barat Lepas Peserta Napa Tilas Memperingati 125 Teuku Umar Johan

Rabu, 21 Februari 2024 - 00:16 WIB

Dugaan Pungli Uang Perpisahan di SDN 182 Kota Pekanbaru, Segini Besarannya

Selasa, 20 Februari 2024 - 17:27 WIB

Pemkab Nagan Raya Rakor Deteksi Dini, Preventif Stunting, harapanya Tidak Ada Stunting di Nagan Raya

Jumat, 16 Februari 2024 - 21:20 WIB

TINGKATKAN SINERGI DAN KOLABORASI, LAPAS CILEGON IKUTI FRIENDLY MATCH TENIS DI KANWIL BANTEN

Berita Terbaru